3 Hal yang Wajib Diketahui soal Ikoy-ikoyan yang Ramai di Instagram

Tim detikcom - detikFinance
Kamis, 05 Agu 2021 07:30 WIB
Ilustrasi THR
Ilustrasi/Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Ikoy-ikoyan, sebuah kegiatan berbagi yang tengah ngetren di Instagram. Intinya para pesohor seperti selebgram ataupun artis berbagi dalam bentuk apapun kepada para pengikutnya yang dipilih secara acak.

Ikoy-ikoyan ini ramai dalam beberapa hari terakhir. Meski banyak yang menyambut baik, ada juga yang memandang miring tren ini.

Berikut tiga fakta ikoy-ikoyan yang lagi menggema di Instagram.

Baca juga: Mau Duit Bansos Awet hingga Disisihkan buat Investasi? Ini Tipsnya

1. Apa sebenarnya ikoy-ikoyan ala Arief Muhammad?

Ikoy-ikoyan ini berawal muncul dari akun Instagram milik Arief Muhammad @ariefmuhammad. Intinya adalah bagi-bagi uang melalui direct message kepada para pengikutnya di Instagram.

ikoy sendiri merupakan nama panggilan dari salah satu staf Arief Muhammad yang memiliki nama asli Rizqi Fadillah. Nah Arief sendiri sering berbagi hadiah seperti uang, makanan, vitamin, hingga ponsel dengan memerintahkan si Ikoy.

Terkadang Arief juga mengajak para pengikutnya untuk aktif mengikuti akun Instagram usaha miliknya. YouTuber dengan subscriber lebih dari 2,7 juta itu memiliki usaha kuliner, fesyen, hingga kos-kosan.

Seringnya Arief melakukan aksi bagi-bagi hadiah itu dengan memerintahkan Ikoy, maka muncul kata Ikoy-ikoyan. Dengan pengikut yang banyak, tren itu dengan mudah menyebar begitu saja.

Tren ini menyebar ke selebgram lainnya. Mulai dari Tasya Farasya, Jejow, hingga Fadil Jaidi kini melakukan tren ikoy-ikoyan atau berbagai kepada pengikut Instagram mereka.

2. Marketing Terselubung

Sebagian menilai tren donasi ini hanyalah marketing terselubung. Sebab terkadang ada syarat-syarat yang diberikan para selebgram sebelum berbagi. Mereka juga bisa mendulang lebih banyak pengikut.

Pakar Marketing yang juga CEO Markplus Inc, Hermawan Kartajaya menilai hal yang wajar jika para selebgram berbagi kepada pengikutnya. Menurutnya itu adalah bentuk PSR (personal social responsibility) di masa pandemi.

"Selebgram-selebgram ini kan dapat banyak duit, kaya, jadi ya wajar melakukan itu. Menurut saya bagus karena dia juga yang mendapatkan keuntungan juga dari pandemi ini, follower-nya makin banyak, sehingga dia melakukan PSR. Itu wajar, sangat wajar," tuturnya saat dihubungi detikcom, Rabu (4/8/2021).

Sindiran mengenai marketing terselubung menurutnya tidak pantas juga disematkan kepada para selebgram tersebut. Sebab dalam kegiatan sosial yang dilakukan perusahaan besar seperti CSR juga tetap ada maksud dan tujuannya.

"Jangan dianggap marketing terselubung, itu dilakukan semua orang juga. Bahkan perusahaan besar melakukan CSR juga pasti ada maksudnya. Mereka membangun sekolah atau lainnya di sekitar pabriknya kan ada kepentingan, supaya pabriknya aman, kan tidak apa-apa seperti itu," ucapnya.

Sementara jika memang selebgram tersebut memberikan persyaratan tertentu yang memberikan keuntungan buat mereka sendiri menurut Hermawan juga itu merupakan hal yang wajar. Sebab jika si selebgram tetap eksis maka suatu saat mereka juga bisa melakukan ikoy-ikoyan lagi.

"Kan kita harus tetap hidup dulu jika mau menyelamatkan orang lain," tuturnya.

Tren ikoy-ikoyan untuk melakukan marketing. Cek halaman berikutnya.

Tonton Video: Ricky Cuaca Komentari Tren Ikoy-ikoy Arief Muhammad

[Gambas:Video 20detik]



Sementara Pakar Marketing, Yuswohady menilai hal yang wajar jika selebgram memanfaatkan tren ikoy-ikoyan ini untuk melakukan marketing, baik itu dengan tujuan menambah pengikut ataupun mengiklankan bisnis lainnya. Dalam dunia marketing kegiatan itu masuk dalam kategori sales promotion.

"Itu kan namanya sales promotion, artinya kamu beli dapat hadiah, atau diskon atau apa. Cuma ini kan kepentingannya ada dua, ada yang kepentingan narik follower, ada yang memang kepentingannya untuk donasi atau sedekah," tuturnya.

3. Bikin Netizen Terbiasa Minta-minta

Tren ini menyebar ke selebgram lainnya. Mereka ikut serta bagi-bagi hadiah kepada para pengikutnya. Namun ada juga selebgram yang enggan melakukan karena dinilai memberikan pengaruh buruk.

Yuswohady menjelaskan dalam kacamata marketing, ikoy-ikoyan sama seperti sales promotion yang memberikan diskon atau hadiah tertentu dalam momen-momen tertentu. Tentu hal yang wajar jika konsumen berharap hal yang menguntungkan dia.

Balik ke ikoy-ikoyan, Yuswohady mengibaratkan itu sebagai momentum bagi para pengikut selebgram untuk meminta bagiannya. Sebab selama ini para pengikut tersebut 'dimanfaatkan' para selebgram untuk mendulang keuntungan. Mereka menjual jumlah pengikut untuk mendapatkan iklan ataupun endorsement.

"Jadi itu dalam tanda kutip balas dendam para netizen, karena follower mereka dijadikan komoditi, atau bahasa saya currency. Semakin banyak follower nilainya semakin tinggi. Bahasanya si follower 'selama ini kan kamu dapat keuntungan dari kami, ya saatnya kami minta bagiannya' ya kira-kira seperti itu," tuturnya.

Menurut Yuswohady sah-sah saja jika ada pihak yang menilai ikoy-ikoyan menimbulkan budaya minta-minta bagi netizen Indonesia. Namun pihak yang dimintai pun merupakan pihak yang memang layak karena selama ini sudah mengeksploitasi para pengikutnya.

"Netizen merasa dieksploitasi oleh para selebgram, sekarang mereka minta bagiannya. Logikanya jadi transaksional," tutupnya.

(das/ara)