Genjot Ekonomi Kuartal III Lebih Berat, Pemerintah Bisa Apa?

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 06 Agu 2021 16:58 WIB
Pemulihan ekonomi nasional di tahun 2021 masih memiliki tantangan besar. COVID-19 masih menjadi faktor ketidakpastian alias hantu pemulihan ekonomi.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyadari upaya pemerintah menggenjot pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 tantangannya lebih berat.

Capaian pertumbuhan ekonomi 7,07% secara tahunan pada kuartal II-2021 dijelaskannya terjadi di saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) tidak seketat sekarang.

"Pertumbuhan yang ada sekarang itu 7,07 itu kan terhitung di bulan April, Mei, Juni. Jadi jangan salah kita berasumsi, ini cuma April, Mei, Juni, kuartal kedua, di saat itu belum ada PPKM (seketat sekarang). Nah sementara Juli ini ada PPKM (yang lebih ketat)," kata dia dalam diskusi virtual, Jumat (6/8/2021).

Bahlil menjelaskan tidak ada satupun referensi yang bisa jadi pedoman bagi negara dalam mengahadapi pandemi COVID-19. Semua negara menurutnya berusaha mencari formulasi yang paling tepat dalam menyikapi wabah Corona tersebut.

"Dan di kuartal ketiga tantangannya lebih besar," sebutnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah melakukan beberapa hal untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang sudah bagus di kuartal II, yakni dengan cara mengendalikan COVID-19 dengan baik. Secara bersamaan pemerintah juga menjaga keseimbangan dengan ekonomi dan sosial.

Menjaga sisi kesehatan, ekonomi dan sosial secara proposional tentu bukan perkara gampang. Apalagi situasi pandemi saat ini makin berat. Jika di awal-awal COVID-19 lebih banyak ada di daerah-daerah perkotaan, kata Bahlil sekarang sudah mulai merebak sampai di tingkat pedesaan. Itu satu persoalan yang harus dihadapi.

"Rem dan gas ini harus betul-betul terjadi. Harus diakui bahwa ini persoalan nggak gampang," ungkapnya.

Pemerintah mengharapkan seluruh pihak bersedia bahu-membahu dan kompak dalam menghadapi pandemi COVID-19.

"Yakinlah bahwa kuartal ketiga kita akan bisa lalui dengan baik apabila, satu, mampu kita jaga SOP (protokol kesehatan) COVID dengan baik dari kekompakan antara seluruh warga negara, tidak hanya pimpinan, di bawah juga, tokoh agama, tokoh masyarakat, semuanya harus kita bahu-membahu untuk mencari pertumbuhan ekonomi yang lebih baik," urai Bahlil.

Lanjut dia, sepintar apapun pimpinan negara dan sekuat apapun kabinetnya, jika rakyat tidak kompak untuk menyelesaikan pandemi COVID-19, menurutnya susah.

"Di negara-negara demokrasi lain di dunia juga berbeda pandangan politik tetapi ketika mereka berhadapan dengan COVID mereka semua sama, karena pengin bagaimana negaranya bisa lebih maju," tambahnya.

(toy/eds)