Drama Antara Hotman Paris dan Kopi Kenangan, Pengamat: S3 Marketing

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 16 Agu 2021 16:44 WIB
a
Foto: instagram
Jakarta -

Ribut-ribut kekecewaan Hotman Paris Hutapea ke Kopi Kenangan hingga ancaman dibawa ke jalur hukum, ternyata hanya drama marketing belaka. Ujungnya keduanya mau jualan minuman boba.

Sebelumnya, Hotman Paris sempat mengunggah video berdurasi 57 detik yang berisi pernyataan soal kekecewaannya kepada Kopi Kenangan.

"Saya benar-benar kecewa dengan @kopikenangan.id !!! Saya tunggu itikad baik mereka 3x24 jam," tulis Hotman.

Tetapi, usai kehebohan itu Hotman Paris mengunggah minuman baru Kopi Kenangan yang berkolaborasi dengan dirinya.

"Ayo Masyarakat Indonesia, ini saatnya kalian merasakan minuman kekinian paling enak dari Sultan Hotman Paris bersama Kopi Kenangan yaitu Sultan Boba, pilihan para sultan dengan boba asli Taiwan!," tulis Hotman Paris.

Menanggapi hal itu, Managing Partner Inventure, Yuswohady menyetujui jika marketing yang dilakukan Hotman Paris dengan Kopi Kenangan disebut S3 marketing. Namun, dia menekankan brand story yang dibuat oleh keduanya hanya sebuah sensasi untuk mendapat perhatian publik.

"Iya itu (S3 Marketing) oke-oke saja, setuju tetapi storynya itu ngga jelas. Jadi memang betul harus ada attentionnya. Tetapi brand storynya ngga runut yang membuat orang 'wah keren' ini kan nggak. Ini nih ya sensasi aja, ya bisa saja ini sukses tetapi berisiko," kata dia kepada detikcom, Senin (16/8/2021).

Dia juga mengungkap ribut-ribu yang dilakukan antara Hotman Paris dan Kopi Kenangan sebuah gimmick untuk mendapatkan perhatian. Namun, menurutnya jika itu dijadikan untuk berjualan akan berisiko, di mana brand minuman itu hanya bertahan dalam jangka pendek.

"Kalau brand kolaborasi dengan artis penjualan itu tidak akan sustainable, karena itu hanya mengandalkan ketenaran dan banyaknya follower. Memang itu seperti McDonalds dengan BTS yang viral ramai itu. Jadi memang kalau dengan artis manfaat itu nggak akan lama," jelasnya.

Tetapi dia tidak menyalahkan strategi itu, jika itu memang menguntungkan bagi brand yang mengajak artis untuk kolaborasi. Yuswo mengingatkan karena strategi itu hanya berjangka pendek, maka perusahaan tetap harus membuat strategi baru ke depannya.

"Kalau misalnya Hotman Paris dengan Kopi Kenangan ini laris, paling sebulan dua bulan mungkin, ya tetap Kopi Kenangan harus cari lagi siapa yang akan diajak kolaborasi bulan berikutnya. Kalau ganti-ganti terus juga lumayan untuk menambah omzet," katanya.

"Tetapi harus diingat, kalau mengandalkan endorser yang tidak memiliki background yang sama dengan identitas brand kita, maka jangka panjang kurang. Jadi mesti ada kesamaan antara value yang ditawarkan Kopi Kenangan ke Hotman Paris dan sebaliknya, sehingga mendapatkan sinergi," pungkasnya.

(fdl/fdl)