Penataan Kawasan Food Estate Dinilai Perlu Perhatikan Aspek Kearifan lokal

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Rabu, 25 Agu 2021 10:58 WIB
Personel Bhabinkamtibmas mengecek kondisi alat mesin pertanian (alsintan) bantuan dari pemerintah untuk petani yang terparkir di bengkel alsintan food estate Dadahup di Desa Bentuk Jaya, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Rabu (21/4/2021). Kementerian Pertanian akan mendistribusikan sebanyak 34.356 unit alat dan alsintan untuk mendorong produktivitas pertanian di tahun 2021 terdiri dari Cultivator, Hand Sprayer, Pompa Air, Rice Transplanter, Traktor Roda Dua serta Traktor Roda Empat. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Jakarta -

Program Food Estate (FE) Humbang Hasundutan Sumatera Utara berbasis tanaman hortikultura yang digagas pemerintah sejak pertengahan tahun 2020 lalu hingga kini terus bergeliat. Dari target 1.000 hektare pengembangan di tahun 2021, telah terlaksana penanaman seluas 215 hektare yang dimulai dari Desa Ria Ria Kecamatan Pollung Kabupaten Humbang Hasundutan.

Tahun ini, pemerintah mengupayakan pembukaan lahan di area 785 hektare yang meliputi 3 Desa yaitu Hutajulu, Ria Ria dan Parsingguran 1. Lokasi FE tersebut adalah pemanfaatan lahan tidak produktif, bukan dari pembukaan hutan atau deforestri yang berada di dataran tinggi sekitar 1.400 mdpl.

Guru Besar Agroteknologi Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Noverita menilai secara agroklimat lahan tersebut sesuai untuk pengembangan komoditas hortikultura seperti kentang, bawang merah, bawang putih, kobis dan aneka sayuran dataran tinggi lainnya. Namun, karena lahan tersebut masih bukaan baru, perlu proses untuk sampai tahap menghasilkan produksi yang optimal dengan memperhatikan aspek kearifan lokal.

"Saya terus mengamati dan mengikuti perkembangan Food Estate Sumatera Utara di Humbang Hasundutan yang dimulai tahun 2020 lalu. Dinamika di lapangan memang cukup kompleks namun demikian segala kebijakan yang telah dilakukan tetap bermanfaat bagi pengembangan kawasan dengan mempertimbangkan kearifan lokal yang ada jika kawasan tersebut bisa terus dikembangkan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (25/8/2021).

"Apa yang sudah dimulai dengan pembukaan lahan dan penanaman perdana tahun lalu menurut saya tidak ada pekerjaan yang sia-sia. Pada kenyataanya lahan tersebut bisa menghasilkan sekitar 5,7 ton per hektare bawang merah dan 2,7 ton per hektare bawang putih. Sedangkan hasil panen yang diperoleh dari kentang industri varietas Bliss rata-rata 10 - 15 ton per hektare pada pada panen musim tanam awal," imbuhnya.

Kendati demikian, kata dia, upaya perbaikan masih perlu dilakukan agar lahan tersebut bisa tetap produktif. Kuncinya di perbaikan kualitas tanah melalui penambahan unsur organik, penerapan teknologi budidaya hingga pascapanen, peningkatan kapasitas SDM petani serta penataan kelembagaan usaha petani.

"Penataan kawasan perlu memperhatikan aspek kearifan lokal misalnya kebiasaan petani hamijon yang selama ini menggantungkan pendapatannya dari hasil hutan dan kebun seperti kemenyan, andaliman dan kopi. Dibutuhkan pendampingan intensif untuk mengawal petani yang saat ini berbudidaya hortikultura," katanya.

Ke depan pihaknya juga mendorong penataan lahan yang mengedepankan aspek konservasi lahan dan air untuk menjaga keberlanjutan usaha tani. "Konservasi lahan dan air sangat penting diperhatikan. Teknologi irigasi hemat air seperti irigasi tetes yang saat ini mulai diinisiasi oleh pengelola kawasan, bisa saja diterapkan karena teknologi tersebut bisa menghemat biaya tenaga kerja," jelasnya.

Lembaga riset, badan litbang dan perguruan tinggi disebutnya bisa menjadi agen penting untuk mendorong pengembangan teknologi pangan di kawasan rintisan Food Estate. Terlebih untuk komoditi hortikultura yang secara karakter memang padat modal dan padat teknologi.

Berdasarkan pengamatannya di lapangan di lokasi FE Desa Ria Ria, saat ini beberapa petani tengah mempersiapkan penanaman untuk musim tanam kedua. Sebagian lahan sudah ditanami berbagai komoditas seperti kentang, bawang merah, kubis, cabai dan jagung.

Menurut penuturan salah seorang petani yang ikut program Food Estate Jhonles Lumban Gaol mengaku hasil panen di musim pertama lumayan bagus. Bahkan dirinya bisa menjual hasil panen bawang merahnya dalam bentuk benih.

Untuk musim tanam kedua tahun ini, dirinya akan mengembangkan jagung bermitra dengan PT BISI seluas 1 hektar, serta bawang merah dan kentang masing-masing 6 rante (0,24 ha) secara swadaya di lahan miliknya.

"Saya optimis lahan yang telah dibantu pengolahan dan penanaman pertamanya oleh pemerintah ini akan semakin bagus hasilnya nanti," ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, saat ini pengelolaan kawasan Food Estate Humbang Hasundutan dikoordinir oleh tim transisi yang diketuai Bupati Humbang Hasundutan Dosmar Banjarnahor, bersama dengan tim dari Kemenko Maritim dan Investasi. Meski begitu, Kementerian lain termasuk Kementerian Pertanian masih terus melakukan aktivitas pengawalan dan pendampingan bersama Tim Transisi.



Simak Video "Eselon I Kementan Dikritik Habis DPR Gegara Berseragam Kostranas NasDem"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)