Garap Ojol-Taksi Online, AirAsia Dinilai Sulit Bersaing dengan Grab-Gojek

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 27 Agu 2021 16:14 WIB
ojol taksi online airasia
Foto: Dok. IG Tony Fernandes
Jakarta -

AirAsia meluncurkan bisnis baru yakni transportasi online (ride hailing). Dalam layanan itu akan tersedia taksi online dan antar makanan. Dengan layanan baru ini AirAsia akan menjadi pesaing Grab dan Gojek.

Hal ini disampaikan oleh CEO AirAsia Tony Fernandes yang diumumkan melalui media sosialnya. Ia menjelaskan taksi online akan tersedia di Malaysia, tepatnya di Kuala Lumpur dan Lembah Klang terlebih dahulu. Sedangkan kota lain akan menyusul dalam waktu dekat.

"Kami ingin siapa pun dapat mencari nafkah di ekosistem AirAsia, baik pengendara sepeda motor atau pengemudi. Kami juga ingin menjanjikan karir jangka panjang di AirAsia," tuturnya.

Ekonom Center of Reform of Economics (CORE), Yusuf Randy menilai AirAsia akan sulit untuk bersaing dengan dua raksasa transportasi online seperti Grab dan Gojek

"Tentu ini menambah peta persaingan transportasi online di Asia Tenggara khususnya. Tentu tidak mudah kemudian masuk ikut bersaing di pasar oligopoli yang sudah diisi oleh dua raksasa seperti Grab dan Gojek," kata dia, kepada detikcom, Jumat (27/8/2021).

Menurutnya, jika ingin masuk ke Indonesia strateginya harus ekstra karena Grab dan Gojek sudah jauh di depan AirAisa dalam bisnis transportasi online. Belum lagi ada perusahaan transportasi online juga yang saat ini berkembang di Indonesia.

"Gojek dan Grab sudah jauh masuk terlebih dahulu, basis pasar yang jelas satu sama lain, sehingga ekosistem yang sudah terbangun, belum lagi harus bersaing dengan Maxim yang juga merupakan pemain baru. Apakah kemudian akan bertahan? tentu perlu waktu untuk menjawabnya, hanya saja brand AirAsia yang sudah kuat bisa menjadi kekuatan tersendiri nantinya," jelasnya.

ojol taksi online airasiaojol taksi online airasia Foto: Dok. IG Tony Fernandes

Sementara, Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno mengatakan jika AirAsia masuk ke bisnis transportasi online, untuk basis antar makanan dan barang cukup bisa bersaing. Namun, jika untuk taksi online perlu mempertimbangkan sisi keselamatan dari penumpang.

"Yang dipersoalkan itu mengangkut orang karena ini bicara keselamatan. Kalau antar makanan dan barang nggak masalah. Bisa saja bertahan kalau ambil bagian 10% pendapatan nggak 20% seperti yang lain. Kalau ada penawaran lebih rendah bisa saja pelanggan juga pindah," katanya.

AirAsia memang menjadi korban dari pandemi COVID-19 yang terus menggerus bisnis penerbangan. Karena selama ini menurutnya, 54% orang terbang dengan pesawat itu bukan biaya sendiri, tetapi karena perjalanan dinas, dari perusahaan, Pemda, dan negara.

"Sekarang jadinya bisnis maskapai mulai berpikir memang, bagaimana mereka bisa bertahan," imbuhnya.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan mengatakan upaya dalam merambah bisnis lain merupakan upaya perusahaan di tengah terpuruknya bisnis penerbangan. AirAsia berusaha mengikuti alur bisnis yang tengah tren, terutama bisnis ojek online dan antar makanan.

"Bisnis ojek online dan antar makanan di Indonesia sangat besar, dikuasai satu atau dua perusahaan saja. Di era Pandemi ini, bisnis ini semakin menarik. Jadi sangat logis AirAsia masuk ke dalam bisnis ini," tutupnya.

(ara/ara)