Ada Pasar Khusus Senjata di Afghanistan, Peluru Dijual Seharga Roti

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 27 Agu 2021 18:45 WIB
Taliban fighters patrol as two Traffic policemen stand, left, in Kabul, Afghanistan, Thursday, Aug. 19, 2021. The Taliban celebrated Afghanistans Independence Day on Thursday by declaring they beat the United States, but challenges to their rule ranging from running a country severely short on cash and bureaucrats to potentially facing an armed opposition began to emerge. (AP Photo/Rahmat Gul)
Taliban/Foto: AP/Rahmat Gul
Jakarta -

Peluru di Afghanistan untuk jenis pistol Beretta hingga AK-47 dibuat dan dijual di pasar yang sudah berdiri sejak 150 tahun lalu. Pasar itu tak jauh dari perbatasan Afghanistan.

Dikutip dari NBC News, Jumat (27/8/2021), peluru yang disebut NATO Power itu dijual per kotak dengan isi 500 butir peluru seharga US$ 50 atau setara 4.000 Afghani.

Jika dikonversi, 4.000 Afghani bisa mendapatkan 500 butir peluru, jika dibagi maka per butir peluru hanya 8 Afghani atau setara Rp 1.440 (kurs Rp 180). Itu setara dengan harga roti di Afghanistan seharga 7,8 Afghani.

Dulu pasar senjata itu menjadi tempat perlindungan bagi para gelandangan, pengedar narkoba, dan buronan. Polisi tidak bisa beroperasi di area tersebut. Beberapa waktu tentara juga sempat ingin merusak bisnis di pasar senjata itu, tetapi pedagang bersikeras bahwa mereka tidak khawatir akan ancaman itu.

Azmatullah Orakzai, seorang pemilik toko berusia 25 tahun, yakin bisnisnya akan tetap bertahan karena orang akan membutuhkan senjata.

"Orang akan selalu membutuhkan senjata," katanya.

Banyak senjata yang terkenal dijual di sana, tetapi hanya tiruan. Misalnya senapan otomatis M16 asal AS produksi China harganya 180.000 hingga 230.000 rupee, atau US$ 1.800-2.300.

Tetapi jika dibuat di pasar senjata Afghanistan, harganya jauh lebih murah 30.000 hingga 80.000 rupee, atau antara US$ 300-800.

Kemudian senjata AK-47 dijual US$ 800-2.000. Tapi jika replika yang dibuat di pasar Afghanistan ini menawarkan US$ 70-250.

"Saya dapat menyalin senjata apa pun," kata Orakzai.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Penjual mengatakan sebagian besar senjata yang dijual di sini digunakan untuk pertahanan diri atau berburu. Selain senjata, barang-barang antik juga dijual.

Senapan mesin ringan Sten era Perang Dunia II lengkap dengan tanda Inggris dijual seharga US$ 800. Pistol Enfield tahun 1860 dengan tanda dari resimen kavaleri Hussar, dijual hanya US$ 950.

"Ketika keadaan membaik, kami biasa menjual 10 hingga 20 pistol per minggu," kata penjual pistol lain bernama Ahmad Jan.

Ada yang unik di pasar senjata ini, para penjual akan menyambut baik para pelanggannya. Pemilik toko menyambut pembeli dengan teh dan kue. Tidak hanya itu, para pemilik toko juga telah menggeluti bisnis ini sejak remaja.

"Saya sudah melakukan ini sejak saya berusia 8 tahun. Saya juga bisa membuat AK-47, tetapi lebih suka membuat kaliber 12. Permintaannya lebih tinggi, dan pekerjaannya lebih mudah," kata Omar Farooq, penjual senjata lainnya.

Kini Farooq berumur 20 tahun. Dia pun kini bisa meniru senapan China dari awal dalam waktu dua hari.

(ara/ara)