Anggaran Kementerian Investasi Menciut, Bahlil Minta Ditambah Jadi Rp 1,3 T

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 30 Agu 2021 12:16 WIB
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia
Anggaran Kementerian Investasi Menciut, Bahlil Minta Ditambah Jadi Rp 1,3 T
Jakarta -

Pagu anggaran Kementerian Investasi pada tahun 2022 sebesar Rp 711.513.546.000. Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia pun meminta tambahan anggaran sebesar Rp 600 miliar sehingga totalnya menjadi Rp 1.311.513.546.000.

Pagu anggaran Kementerian Investasi tahun depan lebih rendah dibandingkan 2021 saat institusi tersebut belum berstatus kementerian, yakni sebesar Rp 834.778.720.000. Itu setelah dilakukan realokasi dan refocusing.

"Sekarang sudah jadi menteri anggarannya agak turun, kami memahami, sebesar Rp 711.513.546.000. Karena itu kami mengajukan anggaran tambahan. Anggaran tambahan kami kurang lebih sekitar Rp 600 miliar, menjadi Rp 1,3 (triliun)," katanya dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Senin (30/8/2021).

Tambahan anggaran tersebut untuk peta peluang investasi Rp 95 miliar, relokasi perusahaan asing ke Indonesia Rp 140 miliar, eksekusi realisasi investasi bagi perusahaan penerima fasilitas penanaman modal Rp 110 miliar, eksekusi realisasi investasi mangkrak Rp 120 miliar, peningkatan investasi baru Rp 85 miliar, dan satgas percepatan investasi Rp 50 miliar.

Pihaknya butuh anggaran tersebut untuk mewujudkan target realisasi investasi Rp 1.200 triliun pada 2022. Investasi tersebut dibutuhkan demi mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 5%.

"Yang kedua kalau kita juga melihat bahwa pertumbuhan konsumsi itu lebih banyak karena terciptanya lapangan pekerjaan dari menengah ke bawah, sektor pertanian dan UMKM, dan kolaborasi investasi besar dan UMKM. Ini bagian dari penguatan," tuturnya.

Lanjut Bahlil, tambahan anggaran dibutuhkan untuk menerjemahkan 3 gagasan besar Presiden Joko Widodo (Jokowi), yakni hilirisasi, digitalisasi UMKM, dan ekonomi hijau.

"Dalam rangka mewujudkan ke sana kami dikasih target (realisasi investasi) Rp 1.200 triliun pada tahun 2022 dengan membangun hilirisasi energi baru terbarukan. Memang ini permintaan dunia dan kita tidak bisa mendiamkan diri untuk tidak menjemput bagian yang menjadi kebutuhan dunia kedepan," tambah Bahlil.

(toy/fdl)