Luhut Ungkap Orang RI Masih Suka Berobat di Luar Negeri, Rogoh Rp 158 T

ADVERTISEMENT

Luhut Ungkap Orang RI Masih Suka Berobat di Luar Negeri, Rogoh Rp 158 T

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 30 Agu 2021 16:05 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Foto: KEMENKO MARVES
Jakarta -

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan bahwa lebih dari US$ 11 miliar atau Rp 158,5 triliun (kurs Rp 14.416) digunakan orang Indonesia untuk berobat di luar negeri.

"Lebih dari US$ 11 miliar biaya pengobatan dihabiskan di luar negeri ini angka fantastis. Kita mau bikin di dalam negeri. Kemarin sore hari Minggu saya bicara pak Presiden, kita mau perbaiki. Masa negara ini diatur konsil kedokteran dengan IDI. Maka sekarang ini harus berani bersaing dan terbuka," papar Luhut dalam acara Forum Nasional Kemandirian dan Ketahanan Industri Alat Kesehatan, yang disiarkan melalui YouTube Farmalkes TV, Senin (30/8/2021).

Selain itu, pemerintah Indonesia juga berkomitmen untuk memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia dengan meningkatkan, vaksin, Biotech, API, genome sequencing, stem cell, International/Medical tourism.

"Jadi kita harus bersaing maka harus ada efisiensi dan membuat teknologi yang bagus," ujar Luhut.

Luhut mengungkap Indonesia ini memiliki banyak peluang investasi, selain di bidang kesehatan, ada juga di bidang pariwisata dan kawasan industri hijau dengan energi hijau. Dia menegaskan agar masyarakat tidak terus membandingkan Indonesia dengan negara lain yang berbeda.

"Kita kadang tidak bangga akan negeri kita, kita hanya jadi agen-agen orang lain. Kita selalu bandingkan sama Singapura-Australia. Nggak bisa lah Indonesia kan kepulauan Singapura cuma 6 juta gimana bisa bandingkan. Australia dari zero case sekarang diumumkan tidak lagi. Kita ada strategi kita sendiri," tegasnya.

Dia pun berpesan agar masyarakat bangga dengan produk dalam negeri dan jangan bangga akan impor.

"Bangga dengan Indonesia jangan cuma impor-impor saja, bikin duit jangan impor saja. Anda bikin karya lah, dengan industri jadi. Jangan hanya dengan mengekor dengan negara lain," tutupnya.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT