5 Fakta Harga Cabai Tak Lagi Pedas hingga Petani-Pedagang Kelabakan

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 31 Agu 2021 19:00 WIB
Cabai Merah Keriting
Foto: Puti Aini Yasmin

4. Pedagang Gratiskan Cabai

Ketua IKAPPI Abdullah Mansuri mengungkap saat ini pedagang rela menurunkan harga jualnya dan menggratiskan dagangannya karena takut stok cabainya membusuk.

"Cabai ini berlebih. Kita susah jualnya karena memang daya belinya belum normal, karena persoalannya cabai ini kan tidak bisa bertahan lama sehingga yang sudah mendapatkan stok akhirnya banyak yang dibagi-bagi, dijual murah dan seterusnya, karena khawatir busuk," ungkapnya.

Tidak hanya itu, dikhawatirkan jika cabai membusuk pedagang bisa membuang stok cabainya. Menurutnya pola naik-turunnya harga cabai yang terjadi saat ini sudah terjadi bertahun-tahun.

"Polanya seperti ini kondisinya kan sama selama bertahun-tahun, dalam tahun ini saja sudah tiga kali kenaikan. Sampai tembus Rp 100.000. Nah ini selalu terjadi polanya sama di saat panen raya bahkan dibuang-buang, bukan berarti petani buang-buang pedagang juga sulit untuk menjual. Konsumen juga nggak mau kan yang busuk dan akhirnya kan kebuang," ujarnya.

5. Ancaman Harga Naik

Jika penurunan harga dan permintaan yang minim terus terjadi dikhawatirkan petani akan enggan untuk menanam tanaman. Hal itu akan menyebabkan tingginya harga pada akhir tahun ini yang bertepatan dengan Hari Raya Natal dan tahun baru.

"Yang saya khawatirkan adalah nanti kalau mereka (petani) tidak bisa merawat tanamannya dari sekarang dikhawatirkan di bulan November dan Desember itu akan masalah. Harganya akan tinggi, ditambah lagi hari raya besar Natal, Tahun Baru, kemudian mendekati Lebaran," terang Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid.

"Saat itu stok juga akan menipis, Kalau bulan itu musim hujannya lebat, itu juga akan semakin parah keadaannya," tutupnya.


(ara/ara)