Kereta Cepat JKT-BDG Dituding Proyek Jebakan China

Siti Fatimah - detikFinance
Jumat, 10 Sep 2021 06:06 WIB
Progres pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sampai minggu pertama Juni 2021 telah mencapai 74,5%. Sejauh ini, proses pemasangan Box Girder proyek tersebut dari Casting Yard 1 arah Bandung telah berhasil dirampungkan di akhir bulan Mei lalu.
Foto: Istimewa/PT KCIC
Jakarta -

Proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Jakarta-Bandung turut mendapat perhatian Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu. Dia mengatakan, proyek tersebut adalah 'jebakan' dari China.

"Jebakan Proyek Kereta Api Cepat China, Jakarta-Bandung adalah pintu masuk China untuk aneksasi infrastruktur strategis di Indonesia," kata Said melalui akun twitter pribadinya.

Kepada detikcom, Kamis (9/9/2021), Said memaparkan beberapa alasannya mengatakan hal tersebut. Berikut rangkumannya:

1. Jebakan China

Said menjelaskan ungkapannya mengenai jebakan China dalam postingannya. Dia mengatakan, proyek kereta cepat sudah dipastikan tidak akan mampu balik modal sehingga kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan China untuk mengakuisisi proyek infrastruktur strategis lain yang ada di Indonesia.

"Jadi gini itu jelas-jelas proyek yang tidak layak, saya lihat proyek tidak layak dan dipastikan tidak akan kembali modal, sudah dapat dipastikan. Sehingga dengan demikian maka diperkirakan kalau proyeknya tidak layak dan tidak bisa membayar utang maka biasanya dia (China) meminta kompensasi terhadap infrastruktur lainnya," kata Said.

Proyek yang diakuisisi bisa berbagai macam, misalnya seperti bandara, pelabuhan, atau proyek kereta api lain. Menurutnya, itulah karakteristik China.

"Kenapa saya sebut jebakan? Di berbagai negara Timur Tengah dan Afrika, China melakukan hal yang sama, membangun infrastruktur rakyat kemudian mengakuisisi infrastruktur yang lain, salah satu negara Afrika sampai mengubah mata uang menjadi yuan. Indonesia ini sangat strategis untuk China," sambungnya.

Tonton juga video liputan khusus 'Bakso Gepeng Viral Laku 800 Mangkok Perhari' di bawah ini:

[Gambas:Video 20detik]



2. Pejabat bertanggung jawab

Said Didu juga turut mengkritisi pembengkakan biaya yang terjadi pada proyek kereta cepat. Dia menyatakan, pembengkakan tersebut sangat tidak wajar, sehingga harus ada nama pejabat yang dapat mempertanggungjawabkan.

"Saya sih menyatakan, sebaiknya pembengkakan 30% itu dan kenaikan itu sebaiknya ada pejabat yang diminta bertanggung jawab terhadap proyek ini. Karena dipastikan akan merugikan BUMN dan merugikan negara, dipastikan.

3. Proyek tidak layak

Dia mengatakan, sejak awal proyek kereta cepat Jakarta Bandung sudah dinyatakan dalam studi Jepang sebagai proyek yang tidak layak. Akan tetapi, Indonesia tergiur dengan kedatangan China yang membawa kabar biaya lebih murah.

"Dari awal proyek ini kan memang waktu studi Jepang mengatakan bahwa proyek ini tidak layak, tapi kan datang China mengatakan bahwa biayanya lebih murah dari Jepang ternyata bohong kan hehehe ternyata biayanya besar sekali," tuturnya.

4. Jonan sempat menolak

Said menceritakan, mantan Menteri Perhubungan saat proyek diresmikan, Ignasius Jonan sempat menolak untuk proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung. Said Didu mengatakan, ada dua orang menteri yang bersikeras melanjutkan proyek.

"Bahwa pada saat peresmian proyek ini itu kan Menteri Perhubungan saya Jonan tidak setuju kan, menteri perhubungan saat itu tidak menyetujui proyek, tapi ada dua menteri yang ngotot," ungkapnya.

"Sekarang sudah susah, buah simalakama betul kalau diberhentikan. Tapi kan akhirnya rakyat yang dirugikan, harus mengambil dari APBN," tutupnya.

(eds/eds)