11 Toko Mark & Spencer Terpaksa Tutup, Ini Biang Keroknya

Siti Fatimah - detikFinance
Jumat, 17 Sep 2021 09:34 WIB
Diskon Marks & Spencer
11 Toko Mark & Spencer Terpaksa Tutup, Ini Biang Keroknya
Jakarta -

Ritel asal Inggris, Marks & Spencer (Maksy) akan menutup 11 tokonya di Prancis, terutama di Paris. Hal dilakukan karena masalah pasokan makanan segar dan dingin terkait dengan kepergian Inggris dari Uni Eropa atau yang biasa dikenal Brexit.

Brexit mempersulit untuk mendapatkan produk segar seperti sandwich dan salad dari Inggris ke Eropa. Pihaknya menyebut akan menutup toko yang terletak di pusat kota Paris -yang selama ini dijalankan dengan mitra waralaba- pada akhir tahun ini.

"Kompleksitas rantai pasokan yang terjadi setelah keluarnya Inggris dari Uni Eropa sekarang membuat hampir mustahil bagi kami untuk menyajikan produk segar dan dingin kepada pelanggan dengan standar tinggi yang mereka harapkan, sehingga berdampak berkelanjutan pada kinerja bisnis kami," kata Managing Director M&S Internasional, Paul Friston dikutip dari CNN, Jumat (17/9/2021).

M&S hanya membuka kembali tokonya di Paris pada 2011 setelah sebelumnya keluar dari Prancis pada 2001. Sembilan toko M&S lainnya yang beroperasi sebagai waralaba di bandara dan stasiun kereta api Prancis dalam kemitraan dengan Lagardere Travel Retail akan terus beroperasi, yang sebagian besar menjual pakaian dan produk rumah.

M&S mengatakan sedang berdiskusi dengan Lagardere mengenai masa depan toko makanannya. M&S juga harus mengubah struktur bisnisnya di Eropa sebagai akibat dari Brexit. Pada bulan April, mereka berhenti menjual semua produk segar dan dingin di Republik Ceko.

Brexit telah menambah tekanan pada rantai pasokan, selain karena kekurangan yang disebabkan oleh pandemi dan meningkatnya permintaan. Pemerintah Inggris pada hari Selasa mengumumkan bahwa mereka akan menunda pengenalan pemeriksaan impor makanan dari Uni Eropa selama enam bulan hingga Juli 2022 karena supermarket berjuang untuk menjaga rak mereka tetap penuh.

Produsen makanan dan perusahaan transportasi Inggris menyalahkan keluarnya Inggris dari Uni Eropa atas kekurangan pekerja yang memaksa mereka untuk memangkas produksi dan mempersulit pengiriman barang tepat waktu. Asosiasi Pengangkutan Jalan mengatakan Inggris kekurangan sekitar 100.000 pengemudi truk, 20.000 di antaranya adalah warga negara Uni Eropa yang meninggalkan negara itu setelah Brexit.

(fdl/fdl)