Jerit Warga Afghanistan: Kelaparan di Bawah Kekuasaan Taliban

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 21 Sep 2021 11:57 WIB
Warga berdatangan untuk melakukan penarikan uang tunai usai bank di Afghanistan kembali beroperasi. Demi ambil uang, warga rela antre berjam-jam.
Jerit Warga Afghanistan: Kelaparan di Bawah Kekuasaan Taliban
Jakarta -

Sudah lebih dari sebulan sejak Taliban berhasil mengambil alih Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul. Presiden Afganistan, Ashraf Ghani, diketahui meninggalkan Kabul pada hari Minggu (15/8) lalu saat Taliban memasuki ibu kota Afghanistan tersebut.

Kelompok Taliban menyatakan perang telah berakhir usai para pejuangnya mengambil alih Istana Kepresidenan. Sejak itu, Taliban mulai mengambil ahli pemerintahan negara tersebut.

"Hari ini adalah hari besar bagi rakyat Afghanistan dan para mujahidin. Mereka telah menyaksikan buah dari upaya dan pengorbanan mereka selama 20 tahun," kata juru bicara kantor politik Taliban, Mohammad Naeem, kepada Al Jazeera TV.

Di tengah kekuasaan Taliban, warga Afghanistan kini mulai kelaparan. Kondisi ini disebut jadi krisis terburuk yang pernah terjadi di Afghanistan.

Melansir dari BBC, pada Selasa (21/9/2021), warga miskin di Ibu Kota Afghanistan, yakni Kabul, kesulitan mendapatkan uang hingga membuat mereka kelaparan.

Jutaan orang hidup dalam kemiskinan di negara yang selama ini menerima bantuan luar negeri dalam jumlah besar.

Uang bantuan yang tersisa mungkin hanya ada sekitar US$ 9 miliar atau setara Rp 127,8 triliun (dengan kurs Rp 14.200/dolar AS). Uang itu pun disimpan sebagai cadangan bank sentral, dan telah dibekukan oleh Amerika Serikat agar tidak digunakan oleh Taliban.

Saking sulitnya mendapatkan uang, ratusan pekerja konstruksi di Kabul kini terus berkumpul di pasar mulai waktu subuh. Mereka mengemis pekerjaan sebagai buruh harian.

Hal ini dikarenakan proyek-proyek pembangunan di Kabul telah mangkrak. Banyak bank yang tutup dan mata uang asing tak lagi beredar di sana.

Salah seorang warga, Hayat Khan, mengamuk karena sulitnya kondisi di Kabul. Ia kesal kekayaan negaranya telah dikorupsi para elite negara hingga membuat warganya susah.

"Orang kaya memikirkan diri mereka sendiri, bukan orang miskin. Saya bahkan tidak bisa membeli roti. Percayalah, saya tidak dapat menemukan satu dolar pun dan orang kaya lainnya memasukkan dolar bantuan dari Barat ke kantong mereka," katanya.

"Tak ada yang memedulikan orang miskin. Ketika bantuan dari luar datang, para penguasa memastikan bahwa itu diberikan kepada kerabat mereka, bukannya ke orang-orang miskin," sambungnya.

Karena itu, saat ini di Afghanistan ratapan yang paling sering didengar di Kabul selama beberapa pekan terakhir adalah tentang harga makanan dan keputusasaan para orang tua yang berjuang memberi makan anak mereka. Harga makanan melonjak drastis, sementara jutaan orang berjuang untuk memberi makan keluarga mereka.

World Food Programme (WFP) memperkirakan 93% dari penduduk Afghanistan tidak mendapatkan cukup makanan untuk dimakan. Jumlah ini meningkat dibanding sebelum Taliban merebut kekuasaan bulan lalu, sebesar 80%.

Pasar bermunculan di seluruh kota Afghanistan, dengan orang-orang yang berhasil mengumpulkan kekayaan di era sebelumnya, menjual harta benda mereka demi mengumpulkan sedikit uang, sebagian besar untuk makanan.

Simak video 'Krisis Keuangan Bikin Warga Afghanistan Tak Bisa Beli Obat':

[Gambas:Video 20detik]



(fdl/fdl)