Ini Ngerinya Kalau AS Sampai Gagal Bayar Utang Ratusan Ribu Triliun

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 23 Sep 2021 08:45 WIB
A supporter of Republican presidential candidate Donald Trump holds an American flag as Trump speaks at a campaign rally in Milford, New Hampshire, February 2, 2016. REUTERS/Mike Segar
Foto: REUTERS/Mike Segar
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) terancam tidak bisa membayar utang pada Oktober mendatang. Selain itu pemerintah AS juga menyebut jika negara akan kehabisan uang untuk pembayaran utang tersebut.

Dikutip dari datalab.usaspending.gov, jumlah utang sebanyak US$ 26,95 triliun (data 2020) atau setara dengan Rp 384,03 ribu triliun (asumsi kurs Rp 14.250). Ini artinya utang AS nyaris Rp 400 ribu triliun.

Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi mengungkapkan jika AS gagal bayar utang, maka ini akan menjadi bencana baru untuk perekonomian AS yang sedang dalam masa pemulihan.

Bahkan kegagalan ini akan menciptakan jurang resesi baru yang lebih dalam. Ada banyak dampak yang akan terjadi misalnya ada 6 juta orang yang berpotensi kehilangan pekerjaan hingga angka pengangguran yang bisa naik hingga 9%.

Kemudian, kegagalan itu akan menciptakan kehancuran di pasar keuangan dan mengganggu harga saham hingga menurunkan US$ 15 triliun kekayaan masyarakat.

"Ini adalah bencana besar," kata Zandi dikutip dari CNN, Kamis (23/9/2021).

Walaupun Menteri Keuangan AS Janet Yellen sudah menyampaikan kondisi tersebut dan meminta Kongres untuk meningkatkan batas utang. Namun Partai Republik menolak rencana tersebut karena khawatir terkait pengeluaran pemerintah AS.

Moody's mencatat jika saat ini pasar keuangan tidak panik dengan plafon utang tersebut. Mereka meyakini jika Kongres akan mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah ini.

Bahkan pasar menilai jika dampak di Wall Street akan lebih kecil dibanding kondisi 2011 dan 2013.

"Ini ironis, investor sangat optimis, pemangku kebijakan juga tidak khawatir dan percaya diri. Tapi ini akan menjadi kesalahan yang membahayakan," jelasnya.

Moody's juga menyebutkan jika Kongres gagal meningkatkan pagu utang dan Kementerian Keuangan terlambat membayar tagihan bahkan gagal bayar, maka pasar akan bereaksi buruk.

"Mungkin ada momen TARP," tambah dia. Hal ini mengacu pada runtuhnya pasar pada 2008. Saat itu Kongres awalnya gagal menyetujui bailout Wall Street namun keadaan cepat berbalik.

Skenario terberat menurut Moody's adalah jika Kongres masih tidak melakukan peningkatan plafon utang dan masih terjadi kebuntuan. Hal ini akan memaksa pemerintah AS menunda US$ 80 miliar untuk pembayaran 1 November. Mulai dari jaminan sosial, veteran dan militer yang masih aktif harus dilakukan pemangkasan anggaran besar-besaran.

Lihat juga video 'AS-Australia Sepakat, Jalin Kemitraan Demi Kepentingan Global':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/eds)