Merpati yang Ingkar Janji dan Tak Bisa Terbang Lagi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 25 Sep 2021 21:15 WIB
Merpati Airlines
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) akan dibubarkan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Merpati akan dibubarkan dengan enam BUMN lainnya.

Pembubaran dilakukan karena perusahaan BUMN ini sudah tidak bisa beroperasi. Merpati adalah maskapai yang beroperasi pada 1962 atau era kepemimpinan Presiden Soekarno dengan modal Rp 10 juta. Saat itu juga ditetapkan jika modal bisa ditambah dengan ketentuan Peraturan Pemerintah.

Pendirian Merpati Airlines sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1962 tentang Pendirian Perusahaan Negara Perhubungan Udara Daerah dan Penerbangan Serba Guna "MERPATI NUSANTARA".

Dalam pasal 5 disebutkan perusahaan ini didirikan dengan tujuan untuk membangun ekonomi nasional dalam bidang perhubungan. "Sesuai dengan ekonomi terpimpin dengan mengutamakan kebutuhan rakyat dan ketenteraman serta kesenangan kerja dalam perusahaan, menuju masyarakat yang adil dan makmur materiil dan spiritual," tulis pasal tersebut dikutip, Sabtu (25/9/2021).

Dalam PP yang diteken oleh Presiden Soekarno itu Pasal 22 disebutkan dari laba bersih yang dihasilkan oleh Merpati, sebanyak 55% disisihkan untuk dana pembangunan semesta.

Kemudian 20% untuk cadangan umum hingga mencapai jumlah dua kali modal perusahaan dan untuk ganti rugi sebesar 3%. Sedangkan sisanya dipisahkan untuk sumbangan dana pensiun dan sokongan pegawai, sosial dan pendidikan, jasa produksi yang jumlah persentasenya masing-masing akan ditetapkan oleh pemerintah.

Dalam pasal 23 juga dicantumkan terkait pembubaran perusahaan dan penunjukan likuidaturnya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. "Semua kekayaan perusahaan setelah diadakan likuidasi menjadi milik negara. Pertanggungjawaban likuidasi oleh likuidatur dilakukan kepada Menteri yang memberi pembebasan tanggung-jawab tentang pekerjaan yang diselesaikan olehnya," tulis pasal tersebut.

Dari catatan detikcom, Merpati pernah menyentuh masa kejayaan di 1989-1992. Saat itu, Merpati memiliki sekitar 100 armada. Merpati memiliki berbagai tipe pesawat, mulai jet hingga baling-baling berukuran kecil.

Di masa keemasan itu, Merpati dipimpin oleh Direktur Utama Capt FH Sumolang. Di bawah kepemimpinan Sumolang, Merpati mulai masuk ke era pesawat jet seperti Fokker-28, Fokker-28, dan DC-9.

"Jumlah pesawat 100. Era jet itu di Sumolang. Ada Fokker 28 dan DC9," kata Dewan Penasehat Forum Pegawai Merpati (FPM) I Wayan Suarna di Jakarta, dikutip dari pemberitaan detikcom edisi (5/2/2014).

Merpati diperkuat sinergi dengan Garuda Indonesia. Berlanjut ke halaman berikutnya.