Evergrande yang Terancam Bangkrut karena Utang, Didirikan Buruh Pabrik Ini

Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 28 Sep 2021 13:46 WIB
Raksasa properti China, Evergrande tengah disorot karena terancam bangkrut imbas kesulitan bayar utang. Sang pendiri perusahaan, Xu Jiayin pun ikut jadi sorotan
Foto: Getty Images
Jakarta -

Hui Ka Yan atau juga dikenal dengan nama Mandarinnya, Xu Jiayin merupakan sosok di balik berdirinya raksasa properti China, Evergrande yang kini menjadi sorotan karena terancam bangkrut akibat kesulitan bayar utang.

Hui adalah pendiri perusahaan yang kini terlilit utang mencapai US$ 300 miliar atau sekitar Rp 4.290 triliun (asumsi kurs Rp 14.300).

Melansir dari Newsweek, Hui lahir pada tahun 1958 di Desa Jutaigang, Kotapraja Gaoxian yang berpusat di provinsi Henan yang terletak di Tiongkok Barat.

Masa kecilnya tak banyak dihabiskan bersama kedua orang tuanya. Sebab, ayahnya harus berperang melawan Jepang sebagai anggota Tentara Revolusioner Tiongkok, dan ibunya meninggal sebelum ulang tahunnya yang pertama. Sebagian besar hidupnya, dihabiskan bersama neneknya.

Di masa mudanya, Hui melakukan sejumlah pekerjaan yang berat. Media pemerintah China melaporkan bahwa dia pernah menjadi pengemudi traktor untuk menggali pupuk sebelum bekerja selama dua tahun di sebuah pabrik semen.

Pada suatu ketika, dia mengklaim pernah bertemu dengan seorang peramal yang mengatakan bahwa dirinya akan memiliki masa depan gemilang.

Akhirnya, Hui keluar dari pekerjaannya di pabrik semen dan diterima di Wuhan Institute of Iron and Steel pada akhir 1970-an yang sekarang dikenal sebagai Wuhan University of Science and Technology. Setelah lulus dan bekerja selama beberapa tahun di Wuyang Iron and Steel Company, dia kemudian mendirikan Evergrande Group pada tahun 1997.

Perusahaannya itu melakukan serangkaian investasi pada bidang properti hingga kemudian melakukan penawaran umum perdana (IPO) senilai US$ 722 juta pada tahun 2009.

Evergrande pun terus mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2018, laporan Brand Finance menempatkannya sebagai perusahaan real estat paling berharga di dunia. Hui setidaknya memiliki 70% saham perusahaan, menjadikannya orang terkaya ke-53 di dunia dan orang terkaya ke-10 di China versi Forbes.

Kejayaan pengembang properti terbesar kedua di China itu pun kini terancam runtuh, karena perusahaan mendekati jatuh tempo pembayaran utang US$ 83 juta.

Lembaga pemberi rating internasional, S&P Global baru-baru ini memperkirakan bahwa pemerintah China akan menolak menyelamatkan perusahaan yang terbelit utang itu. Namun, Hui memperlihatkan sikap optimistis dengan menulis dalam sepucuk surat kepada karyawannya bahwa perusahaan akan keluar dari masa tergelapnya. Sayang, surat tersebut tidak disambut baik

Reuters melaporkan bahwa pernyataan Hui tidak menyebutkan rencana tentang bagaimana para petinggi perusahaan akan menyelamatkan perusahaan dari utang senilai lebih dari Rp 4 kuadriliun.

(zlf/zlf)