Erick Beri Kisi-kisi Soal Dugaan Korupsi di PTPN dan Krakatau Steel

Siti Fatimah - detikFinance
Jumat, 01 Okt 2021 10:58 WIB
pOster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berbicara mengenai indikasi adanya tindak korupsi di dua perusahaan pelat merah, PT Perkebunan Nusantara atau PTPN (persero) dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Publik pun bertanya-tanya siapa pihak yang diduga melakukan korupsi tersebut?

Erick tidak menyebut pihak siapapun. Tapi dia menegaskan bahwa yang dimaksud bukan para direksi dan komisaris yang menjabat saat ini.

"Kemarin saya bicara Krakatau Steel dan PTPN, bukan direksi dan komisaris yang hari ini tetapi yang saya sampaikan bahwa sudah terjadi proses yang salah sebelumnya," kata Erick dalam acara Dies Natalis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa secara virtual, Jumat (1/10/2021).

Dia mengatakan, penemuan indikasi tersebut harus diperbaiki sama-sama agar tidak terulang di kemudian hari saat direksi dan komisaris saat ini tidak lagi menjabat. Erick tak ingin mereka disebut melakukan pembiaran.

"Nah itu saya buka yang kemarin, ini bagian dari loyalitas saya kepada direksi dan komisaris saya. Karena penting restrukturisasi di BUMN ini bisa berjalan transparan dan baik. Toh hasilnya sudah ada, Krakatau Steel yang tadinya 8 tahun berturut-turut sekarang untung, PTPN yang tadinya rugi sekarang untung, transformasi ini kita jaga baik secara administrasi ini bisnis proses yang baik," sambungnya.

Erick menjelaskan, baik PTPN dan Krakatau Steel telah melakukan restrukturisasi. Meski begitu, dia tak akan menutup mata jika sebelumnya ada indikasi korupsi di perusahaan tersebut dan akan menindak lebih lanjut.

"Kita kan nggak boleh merem mata juga, kalau yang sebelum ini ada tindak pidana korupsi yang harus dipertanggungjawabkan. Jangan sampai direksi baru, komisaris baru terkena karena dibilang pembiaran," kata Erick, Kami (30/9) kemarin.

Sekedar informasi, kabar mengenai indikasi korupsi tersebut berasal dari besarnya utang yang dimiliki PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebesar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 31 triliun. Selain itu, salah satu penyebab utang adalah investasi US$ 850 juta untuk proyek blast furnace yang kini mangkrak.

(das/das)