Krisis Chip dan Rantai Pasok Bikin Penjualan Mobil Seret

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 02 Okt 2021 14:30 WIB
Virus Corona berdampak pada penjualan mobil baru di Inggris. Penjualan mobil baru pada April 2020 anjlok 97%.
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Christopher Furlong
Jakarta -

Pasar otomotif di Amerika Serikat (AS) saat ini sedang menghadapi sejumlah masalah. Mulai dari penjualan yang anjlok akibat kurangnya chip hingga masalah rantai pasok yang menyebabkan banyak pabrik tutup.

General Motors memproyeksi kondisi ini akan membaik pada kuartal akhir 2021. Kurangnya pasokan chip komputer ini terjadi pada minggu awal pandemi.

Banyak pabrik dan dealer tutup hingga membuat banyak pegawai kehilangan pekerjaan. Hal ini turut membuat produsen mobil memangkas pesanan chip komputer hingga suku cadang lainnya. Tapi ketika penjualan mulai merangkak naik, pabrik malah kesulitan memperoleh chip tersebut.

Apalagi banyak negara di Asia Tenggara yang menjadi produsen sekaligus pemasok chip tutup karena dilanda COVID-19 dan harus menghentikan operasional pabrik.

COVID-19 memang memperparah produksi chip sampai proses pengiriman ke berbagai negara. Tersendatnya arus pengiriman barang di pelabuhan, jumlah pengemudi yang sedikit hingga kekurangan tenaga kerja.

Dikutip dari CNN, General Motors mencatatkan penurunan penjualan hingga 30% pada kuartal IV 2020. Tahun sebelumnya sebelum masa pandemi, General Motors juga mencatatkan penurunan hingga 40%.

Kemudian penurunan bisnis juga terjadi di Stellantis sebuah perusahaan hasil patungan Fiat Chrysler dan PSA Group Prancis. Penjualan turun 19%.

Lalu Toyota Motor pada kuartal III tahun ini mencatatkan kenaikan tipis 1,4% dibandingkan tahun lalu. Toyota menyebutkan akibat tersendatnya rantai pasok mereka harus mengurangi produksi di beberapa pabrik.

Kepala Pemasaran Stellantis AS Jeff Kommor mengungkapkan seluruh produsen mobil ini terkendala pasokan semikonduktor yang sangat dibutuhkan dalam perakitan unit.

"Banyak masalah yang terjadi pada rantai pasok barang yang dibutuhkan industri otomotif. Meskipun kami tahu permintaan kendaraan itu masih ada," jelas dia.

(kil/eds)