d'Mentor

Jangan Pikir Beli Franchise Kuliner Bisa Ongkang-Ongkang Kaki

dtv - detikFinance
Kamis, 07 Okt 2021 12:45 WIB
Jakarta -

Banyak yang berpikir mengambil bisnis franchise tidak perlu kerja keras. Tapi anggapan itu tidak benar, tetap perlu ada pengawasan rutin agar tidak buntung

"Walaupun kita ambil brand franchise tetap harus diawasi setiap hari dan dinamis setiap hari, jadi ekspektasi bangun tiap pagi di hp selalu ada masalah. Bisnis autopilot itu enggak ada, yang ada itu sistem berjalan, tidak autopilot karena harus diawasi," ujar Konsultan Bisnis F&B Bisma Adi Putra dalam acara d'Mentor detikcom, Rabu (6/10/2021).

Sekalipun ada karyawan, Bisma berpesan agar pengawasan dan kontrol tetap harus dilakukan langsung oleh pemilik usaha. Jangan berpikir ambil franchise bisnis autopilot.

"Kita punya karyawan yang mengawasi, bener ada GM ada supervisor ada area manager tetapi tetap harus dikontrol diawasi jadi ekspektasi itu nomor satu," papar Bisma.

"Biasanya itu bulan ke satu sampai ketiga masih ramai, bangga ke teman-teman saya buka bisnis lalu dapat ucapan selamat dan sebagainya. Kemudian bulan ke dua oke masih bisa kirim-kirim orang, bulan ketiga mulai ngerasa stagnan ya gini-gini aja, pagi pesan bahan baku, siang kehabisan bahan baku, malam terima laporan kayak gitu tiga bulan berturun-turut. Nah bulan keempat, kelima makin kendor hingga akhirnya bulan keenam, sudah mulai banyak laporan harian yang sudah nggak kita lihat. Nah ini yang komitmen sulit banget karena betul-betul stagnan, operasional itu betul-betul membosankan," ujarnya.

Bisma menjelaskan tantangan kedua dalam bisnis franchises kuliner yakni komitmen. Karena ada titik di mana kalian merasakan jenuh dan tidak bisa berkembang.

Bisma mengatakan kalau kebiasaan dan cara berpikir itu tidak bisa diubah, alamat bisnis kalian bukannya untung malah buntung.

"Kalau sudah bosan kita enggak bisa breaktrough dari habit kita, enggak bisa melepas dari rutinitas itu pasti ke gulung. Satu kali ke gulung itu bisa sampai beberapa bulan baru sadar, nah pas udah sadar biasanya udah mulai telat," tutupnya.

(edo/gah)