Top! Alga Made In Klaten Terbang ke Amerika hingga Eropa

Achmad Syauqi - detikFinance
Sabtu, 09 Okt 2021 20:00 WIB
Alga RI
Top! Alga dari Klaten Terbang ke Amerika hingga Eropa

Pengembangan alga itu, rinci Rangga, juga untuk mengenalkan potensi pangan baru masa depan ke masyarakat agar lebih sehat. Jenis produksi sudah berbagi jenis, termasuk mi.

"Yang sudah kami produksi saat ini ada suplemen kapsul, sabun, serum, mi sehat dan ada juga serbuk yang kita kerjasama dengan industri makanan besar. Yang kapsul bisa dikonsumsi astronot dan tentara," imbuh Rangga.

Kapsul itu, sebut Rangga, bisa dikonsumsi astronot dan tentara karena nilai proteinnya 70 persen. Makan dua kapsul setara dengan satu kilogram sayur dan buah.

"Karena punya nilai protein 70%, jadi astronot dan tentara cukup makan dua kapsul tiap pagi, siang, sore. Dua kapsul itu nilai antioksidan setara satu kilogram sayur dan buah-buahan," tambah Rangga.

Dipaparkan Rangga, permintaan untuk industri makanan dan kesehatan saat ini semakin besar. Produk alga sudah merambah ke seluruh Indonesia.

"Pemasaran produk kita sudah ke seluruh Indonesia. Ini sekaligus mengenalkan sumber potensi makanan baru yang lebih sehat," pungkas Rangga.

Kades Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Mujahid Jariyanto mengatakan pengembangan alga Spirulina itu memanfaatkan air dari umbul Temanten di desanya. Kadar pH dan panas matahari sangat baik.

"Ini mungkin yang paling cocok untuk pengembangan alga Spirulina. Karena air Umbul Temanten pH nya antara 8-9 dan sinar matahari juga baik," jelas Mujahid pada wartawan.

Pengembangan alga yang melibatkan pemuda desa, PT dan BUMDes itu, kata Mujahid menghasilkan sumber makanan yang baik, dengan kandungan protein 70 persen. Hal itu sudah diriset BPPT.

"BPPT Serpong sudah merekomendasi dan setiap produk ada label BPPT pusat. Termasuk dari MUI," terang Mujahid.

Diceritakan Mujahid, pengembangan alga itu sejak 2017-2018. Ide awalnya Umbul Temanten hanya untuk mandi dan air minum sehingga diupayakan dimanfaatkan untuk usaha lain.

"Sehingga manfaat menghasilkan makanan. Tahun 2020 kita tambah lahan, 2022 nanti rencananya menambah 1 hektare karena ada investor Swiss karena produksi saat ini baru 1 ton kering per bulan," pungkas Mujahid.


(fdl/fdl)