Umur Pipa Nyaris Seabad, Hampir Separuh Air PAM Jaya 'Menguap'

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 15 Okt 2021 11:16 WIB
Pekerja membersihan saluran air baku yang siap diolah untuk menjadi air bersih oleh Palyja di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Cilandak, Rabu (7/10/2015). Operator penyediaan dan pelayanan air bersih untuk wilayah barat DKI Jakarta, PALYJA, telah berkoordinasi dengan PAM Jaya dan AETRA untuk mendapatkan tambahan air baku, sebagai bentuk kompensasi penurunan produksi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Cilandak, Jakara Selatan. Rachman Haryanto/detikcom.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Umur pipa air milik PAM Jaya di DKI Jakarta ada yang sudah hampir 100 tahun atau seabad. Tak aneh, sebab BUMD DKI Jakarta itu pertama kali lahir pada 1922. Itu juga kali pertama air yang berasal dari Ciburial Bogor dialirkan ke ibu kota negara.

"PAM Jaya itu kan umurnya hampir 100 tahun di 2022, itu adalah momentum di mana kemudian ada air masuk ke Jakarta lewat perpipaan. Artinya pipa yang ada itu masih kita pakai yang sudah mau 100 tahun," kata Direktur Utama PAM Jaya, Priyatno Bambang Hernowo dalam wawancara khusus dengan detikcom, Rabu (13/10/2021).

Terlepas dari itu, dia menyebut bahwa pipa yang dibangun sebelum Indonesia merdeka pada 1945 itu adalah pipa DCI sehingga kekuatannya memang masih cukup baik.

"Tapi sebetulnya umur teknisnya sudah lewat lah, (semestinya) kira-kira 30 tahunan. Terus kemudian sebagian besar pipa kita sudah di atas 25 tahun. Ini kemudian yang perlu kita perbaiki, perlu kita rehab," tuturnya.

Dia juga menyebut bahwa air yang disalurkan oleh PAM Jaya masih rawan kebocoran. Bayangkan saja, non revenue water (NRW) atau tingkat kebocorannya mencapai 44%. Tapi kebocoran itu disebabkan banyak faktor, bukan hanya karena pipa yang sudah tua.

"Misalnya tadi saya sampaikan 20.725 liter per detik yang kita distribusikan itu hanya 56% yang kemudian ke bill, artinya menjadi tagihan. Jadi sisanya itu hilang di dalam perjalanannya, bisa hilang karena faktor teknis, bisa hilang karena faktor komersial," jelasnya.

"Faktor teknis itu karena pipanya bocor, sambungannya nggak sempurna, terus kemudian karena umur teknis pipa yang sudah terlalu tua sehingga terjadi hal tersebut," lanjut dia.

Selanjutnya, hilang secara komersial adalah terjadinya illegal tapping yaitu pencurian air dengan melubangi pipa dan dipasang sambungan untuk dialirkan ke tempat tertentu, lalu terjadi konsumsi secara ilegal. Kemudian ada juga masalah pada akurasi meter dan data.

"Sebagian besar memang kehilangan airnya lebih banyak di kehilangan air fisik. Artinya kita memang harus membenahi infrastruktur jaringan perpipaan kita. Artinya ini memang ini lebih mahal," tambahnya.

(toy/eds)