Airlangga: Ekonomi Digital RI Naik, 2025 Diproyeksi Capai US$ 124 M

Erika Dyah - detikFinance
Jumat, 22 Okt 2021 22:53 WIB
Kemenko Perekonomian
Foto: Dok. Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkap Indonesia memiliki bonus demografi yang mendukung pembentukan ekosistem digital secara berkelanjutan. Diketahui, penduduk Indonesia yang terdiri dari generasi Z dan milenial berusia 8 hingga 39 tahun memiliki tingkat adopsi digital tinggi.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Google, Bain, dan Temasek pada 2020 lalu, sebanyak 37% konsumen baru ekonomi digital telah muncul selama pandemi COVID-19. Adapun 93% di antaranya akan tetap memanfaatkan produk ekonomi digital pasca pandemi COVID-19.

Airlangga menilai pertumbuhan di sektor informasi dan komunikasi yang dipicu oleh pergeseran perilaku masyarakat ke arah 'low-touch and contactless economy' pada masa pandemi menjadi peluang tersendiri. Khususnya, dalam mengakselerasi transformasi digital di berbagai sektor bisnis, sehingga mampu berkontribusi positif terhadap percepatan pemulihan ekonomi.

Ia pun mengungkap sektor informasi dan komunikasi mengalami pertumbuhan positif di Triwulan II 2021 sebesar 6,87% (yoy). Hal ini turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia di periode sama yang mencatat pertumbuhan tertinggi mencapai 7,07% (yoy).

"Aktivitas ekonomi digital di Indonesia terus meningkat, bahkan 41,9% total transaksi ekonomi digital ASEAN selama 2020 berasal dari Indonesia yang mencapai US$44 miliar, dan di 2025 diproyeksikan mencapai US$124 miliar. Kondisi pandemi COVID-19 juga telah mendorong perkembangan pesat pada teknologi pendidikan dan kesehatan sebagai dampak penerapan pembelajaran dan konsultasi kesehatan secara online," ungkap Airlangga dalam keterangan tertulis, Jumat (22/10/2021).

Pada acara Founders' Day - Peringatan Ulang Tahun Grup Ciputra ke-40, Airlangga menerangkan bahwa perkembangan pesat digitalisasi di Indonesia memberi peluang akselerasi Sustainable Development Goals (SDGs) yang sudah menjadi komitmen global melalui 3 enabler, di antaranya

  1. Akses informasi dan layanan yang tersedia bagi setiap individu, baik di desa maupun perkotaan
  2. Konektivitas antar individu dan organisasi yang meningkat
  3. Efisiensi sumber daya dari peningkatan produktivitas

Adapun salah satu contoh implementasi transformasi untuk mendukung SDGs yang masuk ke dalam RPJMN 2020-2024 adalah konsep Smart City, Green City dan Sustainable City.

Airlangga menjelaskan Smart City secara garis besar didefinisikan sebagai pengaturan atau tata kelola perkotaan yang menerapkan teknologi untuk meningkatkan manfaat dan mengurangi dampak negatif urbanisasi yang mungkin ditimbulkan. Menurutnya, implementasi Smart City diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan, seperti kemacetan, penumpukan sampah, penurunan kualitas air dan udara, hingga peningkatan angka kriminalitas.

Klik halaman selanjutnya >>>