UKM Mau Ekspor Tapi Takut Gagal Bayar? Begini Tipsnya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 01 Nov 2021 19:34 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/9/2012). Pengamat Ekonomi dari Standard Chartered Bank mengatakan perekonomian dunia akan mengalami kenaikan pada level 3,2%. Pertumbuhan tersebut akan berdampak pada impor dan ekspor Indonesia pada tahun 2013.
Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang terjadi di seluruh dunia termasuk di Indonesia membuat sejumlah negara sempat membatasi aktivitas pengiriman dan penerimaan barang.

Karena itu para eksportir harus mampu mengamati kondisi yang terjadi saat ini. Selain itu eksportir juga harus mempersiapkan diri dengan proteksi atau asuransi untuk produk yang dikirimkan ke luar negeri.

Asuransi dibutuhkan untuk melindungi pengiriman barang dari risiko-risiko yang tidak diinginkan. Team Leader Departemen Asuransi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Santi mengungkapkan asuransi ini sangat dibutuhkan untuk perlindungan transaksi ekspor seperti gagal bayar.

"Prinsipnya asuransi ini untuk melindungi dari risiko ketidakpastian di masa mendatang. Contoh simpelnya, sekarang masih pandemi COVID-19 yang terjadi mempengaruhi semua sektor industri. Mungkin ada buyer yang sudah kerja sama lama lebih dari 5 tahun misalnya, nggak pernah macet. Tapi kita nggak tahu kondisi ke depannya. Intinya mitigasi risiko dulu," kata Santi, Senin (1/11/2021).

Santi menyebutkan, prinsipnya asuransi ini bukan untuk menakut-nakuti tapi demi melindungi dari risiko ketidakpastian yang mungkin saja terjadi di masa depan. Terutama untuk produk food and beverage (f&b) yang cukup berisiko.

Dengan asuransi ini, jika di kemudian hari terjadi masalah dalam pengiriman barang, maka eksportir bisa melakukan klaim dari asuransi yang sudah dibeli. "Jadi kalau terjadi gagal bayar, kami akan bayar klaim, ini salah satu manfaatnya," ujar dia.

Selain membayar klaim kerugian yang dialami eksportir, LPEI juga membantu dengan investigasi buyer. Hal ini untuk mencari penyebab gagal bayar yang terjadi. Informasi yang diinvestigasi sangat detail mulai dari manajemen, size perusahaan hingga jenis bisnis yang dijalankan.

Selain itu kondisi keuangan perusahaan hingga pencarian informasi terkait supplier yang juga bekerja sama dengan perusahaan tersebut. "Nah dengan informasi ini kita bisa tahu secara detail, untuk rekomendasi kerja sama ke depan," jelasnya.