ADVERTISEMENT

Singles Day di China Dibayangi Aturan Ketat Pemerintah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 02 Nov 2021 13:30 WIB
Jelang hari belanja online nasional (Harbolnas) yang jatuh pada Sabtu (12/12) besok, sejumlah e-commerce terlihat sibuk luar biasa. Penasaran?
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Event belanja online terbesar di dunia, Singles Day atau 11.11 saat ini akan berlangsung di China dan di beberapa negara. Tapi para raksasa e-commerce di China harus menghadapi kenyataan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara dan pengawasan ketat dari regulator.

Dikutip dari CNBC, Alibaba merupakan raksasa e-commerce pertama yang memberikan diskon besar-besaran di platformnya. Akhirnya banyak perusahaan yang mengekor dan membuat Singles Day lebih heboh daripada Black Friday dan Cyber Monday di Amerika Serikat (AS).

JD.com dan Alibaba bahkan sudah mempromosikan event ini sejak 20 Oktober lalu. Mereka menawarkan para konsumen untuk melakukan deposit supaya mendapatkan potongan harga yang lebih besar.

Tapi kondisi pertumbuhan ekonomi China yang melambat dan penjualan ritel yang lesu disebut sebagai ancaman baru bagi para e-commerce ini.

Namun masih ada harapan para konsumen ingin berbelanja lebih banyak. Dikutip dari Survei Bain & Company yang diterbitkan pekan lalu ada 52% responden yang mengaku ingin mengikuti event dan belanja lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Lalu sebanyak 8% konsumen mengaku ingin memangkas pengeluaran tahun ini.

Tahun lalu, Singles Day berhasil meraup pendapatan hingga US$ 131,3 miliar. Analis Bain Jonathan Cheng mengungkapkan e-commerce ini mengharapkan penjualan yang lebih tinggi. Tapi Alibaba dan JD saat ini memiliki pesaing ketat seperti Pinduoduo dan TikTok Shop yang disebut Douyin.

"Ada persaingan ketat dari semua platform. Dulu dimulai dari festival Alibaba, tapi sekarang menjadi festival belanja semua platform," ujarnya.

Cheng mengungkapkan, JD dan Alibaba saat ini masih punya konsumen yang loyal. Apalagi di kota-kota besar dan kota-kota kecil.

Beberapa hari menuju Singles Days, saham kedua perusahaan ini justru tercatat turun karena mengetatnya aturan terkait teknologi di China selama satu tahun terakhir. Saham JD.com turun sekitar 27% ini merupakan rekor tertinggi pada Februari sementara Alibaba merosot 48%.

Memang, China sedang melakukan sosialisasi terkait Undang-undang antimonopoli dan perlindungan data. Pada April lalu, Alibaba diminta membayar denda US$ 2,8 miliar usai penyelidikan anti monopoli diterbitkan.

Pekan lalu, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China meminta seluruh perusahaan e-commerce untuk tidak melakukan spam melalui pesan teks.

Kepala bagian pemasaran Alibaba Chris Tung meyakini event 11.11 tahun ini bisa tumbuh signifikan. "Kami berkomitmen untuk membangun masa depan ekonomi dan konsumsi melalui platform online," ujar dia.

Menurut dia, 11.11 ini adalah cara terbaik untuk mendorong pertumbuhan produk yang berkelanjutan dengan cara yang lebih efisien. Alibaba juga akan menawarkan green voucher senilai 100 juta yuan untuk memfasilitasi gaya belanja yang ramah lingkungan. Sementara JD.com fokus pada penggunaan energi terbarukan dalam proses transaksinya.

(kil/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT