Petani Mumet, Pupuk Mahal-Harga Bawang Anjlok

Imam Suripto - detikFinance
Rabu, 03 Nov 2021 21:30 WIB
Petani memanen bawang merah Nganjuk di persawahan desa Giyono, Jumo, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (29/12/2020). Harga bawang merah musim panen anjlok menjadi Rp15.000 per kilogram dari musim panen sebelumnya yang mencapai Rp25.000 per kilogram di tingkat petani akibat banjir di sejumlah wilayah penghasil bawang merah sehingga petani menjual dengan harga rendah. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/aww.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN
Brebes -

Para petani bawang merah di Brebes, Jawa Tengah,mengeluhkan harga pupuk non subsidi dan obat obatan pertanian naik. Mereka mengaku rugi lantaran harga pupuk naik, namun harga bawang hasil panen justru terjun bebas.

Perubahan harga pupuk terjadi mulai akhir Agustus. Harganya terus melonjak hingga memasuki bulan November ini.

Salah seorang petani di Kabupaten Brebes, Ratinah (68) mengatakan, dirinya mengaku rugi besar saat musim tanam ini. Pasalnya, biaya tanam mulai dari bibit, tenaga kerja, pupuk dan obat obatan pertanian, mengalami kenaikkan tajam. Sementara, tanaman bawang merah yang diharapkan bisa menutup biaya tanam, harganya anjlok. Terakhir, kata Ratinah, harga bawang hasil panen dijual seharga Rp.8000 per kilo.

"Tidak rugi gimana, kuli sekarang mahal, bibit juga mahal. Terus harga pupuk naiknya banyak, sementara bawang panen hanya Rp.8000. Dapat untungnya dari mana," keluh Ratinah ditemui saat akan membeli pupuk non subsidi, Rabu (3/11/2021).

Menurut Ratinah, kenaikan harga pupuk non subsidi adalah yang dibutuhkan tanaman bawang merah. Demikian pula obat-obatannya, juga jenis yang dibutuhkan untuk tanaman bawang.

"Jenis pupuknya macam macam. Harganya pun beda beda. Tapi harganya semua naik. Ada yang semula Rp.8000 menjadi Rp.12.000 per kilo," terang Ratinah.

Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik

Diwawancara terpisah, Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia, Juwari mengatakan, dampak kenaikkan harga pupuk ini memang sangat dirasakan petani. Karena jenis jenis pupuk non subsidi yang mengalami kenaikkan adalah yang banyak dibutuhkan petani bawang seperti pupuk NPK dan lain lainnya.

"Dampaknya memang dirasakan sekali. Karena pupuk non subsidi itu yang banyak dibutuhkan petani bawang merah," tandas Juwari.

Meningkatnya harga pupuk ini, sambung Juwari, otomatis menambah biaya tanam yang dikeluarkan. Dia merinci, rata rata biaya tanam bawang merah dengan lahan seluas 1 haktar sebelum ada kenaikkan harga pupuk, sekitar Rp.120 juta. Namun dengan kenaikan pupuk ini naik menjadi Rp.130 juta.

Untuk mencapai harga impas atau BEP, jika hasil panen dalam 1 hektar mendapat 10 ton bawang maka harga jual bawang minimal Rp.14 ribu. Jika hasil panen kurang dari 10 ton maka harga jual bawang harus lebih dari Rp.14 ribu per kilo.

"Sekarang tinggal hitung berapa ruginya. Jelas sangat banyak. Katakanlah 1 hektar dapat 10 ton, maka supaya impas harus dijual Rp.14 ribu. Tinggal hitung saja, sekarang harganya Rp.8000 per kilo, berapa ruginya," bebernya.

Ketua ABMI menyarankan, petani agar menunda penjualan bawang hasil panennya. Hal ini untuk mengurangi kerugian saat harga anjlok.

"Saya sarankan tunda jual dulu supaya tidak rugi besar. Barangkali harganya naik beberapa hari ke depan," Juwari menyarankan.

Bersambung ke halaman berikutnya, langsung klik

Kenaikan harga pupuk non subsidi dibenarkan Dhani Bagus Purnama, seorang distributor pupuk non subsidi. Dia mengatakan, kenaikan harga pupuk nonsubsidi mulai terjadi pada akhir Agustus. Memasuki bulan November, harga terus melonjak tinggi.

Kenaikan harga pupuk diperkirakan akan terus berlangsung hingga Maret 2022 mendatang.
Menurut Dhani, jenis pupuk yang mengalami kenaikkan harga adalah yang mengandung NPK.

"Untuk pupuk yang mengandung bahan NPK sekarang Rp.12 ribu per kilo yang awalnya Rp.8 ribu per kilo. Perkiraan akhir November juga naik Rp.12,5 ribu," kata Dhani

Lebih lanjut Dhani meneruskan, obat obatan juga harganya naik, terutama yang mengandung bahan aktif glifosat. Obat obatan ini rata-rata kenaikannya Rp.40 ribu per botol.

"Untuk jenis obat obatan yang biasa digunakan untuk membunuh rumput liar dan mengandung glisofat kenaikannya sangat signifikan, Rp.40 ribu per botol. Salah satu contoh, yang semula Rp.80 ribu naik jadi Rp.120 ribu," imbuh Dhani.

Turunnya harga bawang, sambung Dhani berpengaruh terhadap daya jual petani. Dia pun menyiasatinya dengan mengurangi belanja pupuk tersebut agar tidak merugi.

Dirinya mengaku, saat ini hanya menyediakan stok 25 ton per bulan. Sedangkan sebelum terjadi kenaikan, biasa belanja 35 ton per bulan.

(hns/hns)