ADVERTISEMENT

Kala Luhut Diajari Cucunya yang Masuk Forbes Soal Perubahan Iklim

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 11 Nov 2021 17:51 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan bercerita bahwa dirinya diajari oleh cucunya untuk mengatasi perubahan iklim (climate change).

Cucunya yang dimaksud adalah Faye Simanjuntak yang sempat mencuri perhatian karena masuk dalam Forbes Indonesia 30 under 30 pada 2020. Feya menempuh pendidikan di Georgetown University's School of Foreign Service, Amerika Serikat.

"Ada beberapa negara maju selalu mengajari kita tentang bagaimana menangani perubahan iklim. Tapi saya katakan 'oke kami juga punya generasi masa depan kami', cucu-cucu saya, cucu saya itu belajar di Georgetown," kata Luhut dalam acara JIF, Kamis (11/11/2021).

Jadi, upaya menangani perubahan iklim, lanjut Luhut tujuannya adalah demi melindungi generasi-generasi yang akan datang.

"Beliau mengatakan kepada saya: 'Opung kalau melihat kebijakan untuk perubahan iklim lihat generasi saya'. Jadi saya ingin mengurus generasi berikutnya," tuturnya.

"Saya tidak mau merusak lingkungan untuk generasi masa depan. Jadi kebijakan apapun yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia itu adalah untuk generasi masa depan Indonesia," sambung Luhut.

Mantan Menkopolhukam itu juga menyinggung perdagangan karbon (carbon trading) yang diimplementasikan oleh Indonesia. Menurutnya Indonesia adalah yang terbesar dalam hal itu.

Menurut Luhut sekitar 70% perdagangan karbon dunia ada di Indonesia. Dia memastikan bahwa Indonesia sangat kuat dalam hal carbon trading. Bahkan hal itu dia pamerkan saat melakukan lawatan ke Washington dan London.

"Jadi kita bisa melihat mangrove kita punya 3,4 hektare, di mana mangrove itu mengkontribusikan 4-5 kali O2. Dan kita punya hutan yang terbesar ketiga dan juga lahan gambut, dan ini mungkin lebih kecil dibandingkan Skandinavia tapi ketebalan dari lahan gambut kita itu bisa sampai 6 meter. Jadi menurut saya itu juga berkontribusi terhadap kepada udara. Jadi ini bisa ratusan juta kesepakatannya. Tapi kita tidak mau melakukan besok, kita harus melakukan secara bertahap," tambahnya.

(toy/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT