Terpopuler Sepekan

Terungkap! Segini Gaji 'Mbak-mbak SCBD yang Selalu Tampil Kece

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 21 Nov 2021 20:36 WIB
Sitting At A Desk And Working With Her Laptop Computer In The Office
Ilustrasi Mbak-mbak SCBD (Foto: iStock)
Jakarta -

Wanita karir yang berkantor di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) atau yang dikenal sebagai 'Mbak-mbak SCBD' heboh jadi perbincangan netizen.

Perbincangan ini bermula dari sebuah unggahan tulisan yang berisi opini tentang mbak-mbak SBCD yang tampil dengan glamor dan penuh gaya, tapi ternyata gaji mereka sebenarnya pas-pasan.

Dalam foto yang diunggah salah satu akun Twitter, disebut gaji karyawan kawasan SCBD sebetulnya hanya kisaran Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. Namun gayanya bak bergaji puluhan juta.

"Sebagian kecil lagi berpenghasilan di atas 10 juta, hanya sedikit yang berhasil di atas 30 juta dan jauh lebih sedikit yang berpenghasilan di atas 50 juta," kata dalam foto yang diunggah salah satu akun @jod********, dikutip Kamis (18/11/2021).

Memangnya berapa sih gaji staff di kawasan SCBD Chairman Asosiasi Praktisi dan Profesional SDM Future HR Audi Lumbantoruan mengungkap untuk di kawasan SCBD untuk entry level atau tingkat awal kisaran gajinya mulai dari Rp 6 juta hingga Rp 10 juta.

"Itu staf. Kalau memang dia udah senior mungkin bisa Rp 12 juta hingga 15 juta. Tetapi sekali lagi jangan menggeneralisasi karena industri dan model bisnis itu juga berpengaruh," kata Audi kepada detikcom.

Mengenai gaji juga disebut tergantung dari standar masing-masing perusahaan. Standarnya bisa dilihat dari pengalaman hingga latar belakang pendidikan.

"Artinya perusahaan itu memberikan salary itu dengan mempertimbangkan apa, pengalaman, background education, job marketnya seperti apa, itu ada standarnya," lanjut Audi.

Menanggapi soal gaya hidup karyawan SCBD yang terkenal high class, menurutnya itu hal yang wajar mengingat lingkungan di SCBD menjadi lingkungan percontohan dan elit. Yang bahaya, kalau sampai Mbak-mbak SCBD ini cenderung memiliki gaya hidup dengan sangat konsumtif.

"Tetapi ya sebenarnya tergantung bagaimana pembawaan kita. Kalau gaya itu kan ujungnya bagaimana acceptance kita di tengah masyarakat. Bahayanya kalau sudah konsumtif, berusaha untuk mendapatkan jadi melakukan pinjaman atau kredit ya," tutur Audi.

(hal/dna)