Dolar AS Dicuekin, Transaksi Bilateral Pakai Uang Lokal Tembus Rp 23 T

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 24 Nov 2021 18:30 WIB
Ilustrasi Dolar AS
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) melaporkan transaksi bilateral dengan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) terus meningkat setiap tahunnya. Sampai Oktober 2021, transaksi LCS mencapai US$ 1,63 miliar atau setara Rp 23,1 triliun (kurs Rp 14.200).

Transaksi itu merupakan akumulasi transaksi rupiah Indonesia dengan empat mata uang negara, yakni ringgit Malaysia, bath Thailand, renminbi China, dan Yen Jepang.

"Perkembangan transaksi LCS di Indonesia terus meningkat. Kita bisa lihat tren dari tahun 2018 sejak inisiatif ini dimulai hingga tahun 2021, perkembangannya terus meningkat," kata Analis Eksekutif BI Perwakilan Beijing Firman Hidayat dalam webinar Indonesia-China LCS Implementation Progress & Best Practice, Rabu (24/11/2021).

Firman menjelaskan transaksi tersebut meningkat dibanding 2018 yang mencapai US$ 148 juta. Peningkatan terjadi setiap tahun di mana 2019 sebesar US$ 760 juta, 2020 US$ 800 juta dan hingga 2021 ini US$ 1,63 miliar.

Sayangnya di antara empat negara, transaksi LCS rupiah Indonesia dengan Yuan China menjadi yang paling rendah. Volume rata-rata transaksi setiap bulan hanya mencapai US$ 15,1 juta.

Sedangkan transaksi rata-rata bulanan mata uang lain, seperti ringgit Malaysia mencapai US$ 16,8 juta, bath Thailand mencapai US$ 43,3 juta dan yen Jepang mencapai US$ 100 juta.

"Ini harapannya pelaku usaha dapat mendorong LCS mata uang yuan dalam transaksi perdagangan," pinta Firman.

Firman mengklaim kerja sama LCS dengan China membawa keuntungan bagi Indonesia. Pasalnya pada 2025, negeri Tirai Bambu itu menargetkan menjadi negara berpenghasilan tinggi (high income country) dan nominal PDB 2 kali lipat pada 2035.

Jika target itu terwujud, China bisa menjadi ekonomi terbesar di dunia sehingga penggunaan mata uang yuan bisa semakin meluas.

"Bila China bisa wujudkan target ini, China bisa menjadi ekonomi terbesar di dunia. Mulai 2030, ekonomi (China) bisa melesat tinggi di atas ekonomi AS," beber Firman.

Di sisi lain, China bergabung dalam perjanjian perdagangan RCEP yang implementasinya mulai berjalan pada awal tahun depan. Perjanjian dagang ini dinilai menjanjikan karena negara anggota RCEP berkontribusi sekitar 30% dari PDB dunia.

Kerja sama RCEP ini melengkapi perjanjian kerja sama dengan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Apalagi saat ini, China menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia bersama AS dan Jepang.

"Kerja sama RCEP dan ASEAN ini akan bisa menjadi daya dorong kerja sama perdagangan maupun investasi. Kami ambil dari data BKPM, China sudah menjadi investor terbesar ketiga di bawah Singapura dan Jepang," tutupnya.

(aid/das)