Inflasi Gila-gilaan di AS, Rupiah Terancam 'Babak Belur'

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 25 Nov 2021 12:31 WIB
Ilustrasi kurs dolar rupiah
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai meroketnya inflasi di Amerika Serikat (AS). Pasalnya itu menentukan arah kebijakan moneter dari Bank Sentral Federal Reserve (The Fed) ke depan yang dampaknya bisa dialami negara berkembang seperti Indonesia.

"Kenaikan suku bunga di AS menimbulkan komplikasi di negara berkembang, outflow yang menimbulkan pelemahan nilai tukar rupiah dan menimbulkan dampak ekonomi domestik," kata Sri Mulyani dalam acara Squawk Box CNBC Indonesia, Kamis (25/11/2021).

Departemen Perdagangan AS telah melaporkan inflasi yang dilihat dari personal consumption expenditure (PCE) melesat 5% year-on-year (YoY) di bulan Oktober. Rilis tersebut menjadi yang tertinggi sejak November 1990.

Sementara inflasi inti PCE yang tidak memasukkan item energi dan makanan dalam perhitungan tumbuh 4,1% YoY, lebih tinggi dari bulan September 3,6% YoY, dan sesuai dengan prediksi Reuters. Inflasi yang menjadi acuan The Fed dalam menetapkan kebijakan moneter ini berada di level tertinggi sejak Januari 1991.

Kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat juga terlihat dari rilis notula rapat kebijakan moneter bulan ini. Dalam notula tersebut menunjukkan para anggota dewan siap menaikkan suku bunga lebih awal jika inflasi terus meningkat.

Indonesia, kata Sri Mulyani cukup beruntung seiring dengan perekonomian yang membaik akibat lonjakan harga komoditas Internasional. Terlihat dari posisi neraca perdagangan dan neraca pembayaran yang surplus.

"Current account surplus 1,5%, ini jauh lebih baik dibanding taper tantrum," ujarnya.

Selain itu, kepemilikan asing pada surat berharga negara (SBN) juga semakin kecil sehingga menciptakan ketahanan ekonomi yang lebih baik. Defisit APBN juga semakin mengecil seiring dengan pemulihan ekonomi yang mendorong penerimaan negara.

Meski begitu, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) menyebut akan tetap memonitor agar bisa membaca segala kemungkinan yang bisa terjadi.

"Kami dengan BI akan koordinasi mengawal perekonomian di dalam menghadapi dinamika global yang tidak bisa kita kontrol, kebijakan di AS, Eropa, dan menimbulkan spill over besar," pungkasnya.

Lihat juga Video: Jokowi: Inflasi Tetap 3%, Nilai Tukar Rp 14.350 per Dolar AS

[Gambas:Video 20detik]




(aid/eds)