ADVERTISEMENT

Keras! Malaysia Larang Warganya ke 7 Negara Afrika Ini

Siti Fatimah - detikFinance
Sabtu, 27 Nov 2021 11:30 WIB
Hand sanitizer bottle and surgical mask on a laptop keyboard that reads COVID-19 on the screen. The concept of preventing office employees from coronavirus disease pandemic.
Ilustrasi/Foto: Dian Rockmad/d'Traveler
Jakarta -

Malaysia resmi mengeluarkan larangan bepergian ke tujuh negara Afrika menyusul temuan varian baru COVID-19 B.1.1.529. Baru-baru ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan, varian baru ini diberi nama Omicron karena berasal dari Afrika Selatan Omicron dan ditetapkan sebagai varian yang meresahkan atau variant of concern (VOC).

Menteri Kesehatan Malaysia Khairy Jamaluddin mengatakan warga Malaysia dilarang mengunjungi Afrika Selatan, Botswana, Eswatini, Lesotho, Mozambik, Namibia, dan Zimbabwe.

Orang asing dengan riwayat perjalanan ke tujuh negara dalam 14 hari terakhir juga tidak diizinkan masuk ke Malaysia. Sementara Warga Malaysia dan mereka yang berstatus permanent resident dan baru kembali ke Malaysia dari 7 negara Afrika tersebut diizinkan masuk tetapi harus menjalani karantina wajib selama 14 hari.

"Para pelancong ini tidak dapat menjalani karantina di rumah. Itu harus dilakukan di stasiun karantina, terlepas dari status vaksinasi. Kementerian Kesehatan memandang serius keberadaan varian baru ini. Kami akan meningkatkan pengawasan genomik kami pada individu yang datang dari negara yang terkena dampak" kata Khairy diktuip dari The Star, Sabtu (27/11/2021).

"Pemantauan berkelanjutan untuk surveilans genomik dilakukan oleh konsorsium yang terdiri dari Kementerian Kesehatan melalui Lembaga Penelitian Medis (IMR), Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi serta Kementerian Pendidikan Tinggi," sambung Khairy.

Seperti diketahui, kasus pertama varian baru COVID-19 ini terdeteksi di Botswana pada 11 November lalu, kemudian yang kedua ditemukan di Afrika Selatan pada 14 November. Seorang individu di Hong Kong yang baru saja mengunjungi Afrika Selatan juga terinfeksi dengan varian yang sama pada 25 November.

Laporan mengatakan varian B.1.1.529 memiliki 32 mutasi lonjakan protein, dua kali lipat dari varian Delta. Para ilmuwan di seluruh dunia tengah berusaha memastikan apakah varian ini lebih menular daripada varian Delta dan apakah bisa menyebabkan penyakit parah, sementara kemanjuran vaksin yang ada saat ini juga belum dipastikan.

(hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT