ADVERTISEMENT

Geger Kena 'Jebakan' Utang China, Deretan Negara Ini Kehilangan Asetnya

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 30 Nov 2021 15:05 WIB
Bendera China
Bendera China/Foto: Shutterstock
Jakarta -

Heboh soal jebakan utang China yang berujung kehilangan aset negara. Hal itu baru saja terjadi oleh salah satu negara di Afrika Timur, Uganda.

Negara itu dikabarkan gagal bayar utang ke China terkait pengembangan Bandara Internasional Entebbe, Uganda. China pun diduga mengambil alih aset tersebut.

Uganda pun bukan satu-satunya negara yang terjerat utang China. Beberapa negara juga ada yang mengalami nasib yang sama.

Daftar negara yang terjebak utang China berdasarkan catatan detikcom, dikutip Selasa (30/11/2021):

1. Sri Lanka

Dalam catatan detikcom, Sri Lanka kehilangan pelabuhan dan bandara miliknya dikelola China. Infrastruktur itu diketahui mendapat pembiayaan dari China melalui bantuan utang sebesar US$ 1,5 miliar yang diberikan pada 2010.

Namun, karena gagal bayar utang ke China, pada 2017 Sri Lanka harus merelakan asetnya tersebut ke China. Keputusan tersebut dilakukan dengan menandatangani kontrak untuk melayani perusahaan milik negara China selama 99 tahun.

Kala itu Sri Lanka tercatat memiliki utang sebesar US$ 8 miliar kepada China. Bila dihitung, untuk membayar utang luar negeri kepada China dan negara lain akan menghabiskan 94% dari produk domestik bruto (PDB) Sri Lanka.

2. Zimbabwe

Peneliti di Institute dor Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman pernah mengatakan bagaimana sebuah negara yang mengalami gagal bayar utang. Dalam penjelasannya pada 2018 lalu salah satunya Zimbabwe.

"Jadi ada bad story dan success story. Yang bad story itu Angola, Zimbabwe, Nigeria, Pakistan dan Sri Lanka," katanya, 21 Maret 2018.

Seperti diketahui, sejak 1998, Zimbabwe mengirim pasukan dan membeli peralatan dari China untuk membantu Presiden Laurent Kabali melawan pemberontak Uganda dan Rwanda.

Untuk membiayai semua aktivitas tersebut, Zimbabwe harus berutang kepada China dengan akumulasi nilai hingga mencapai US$ 4 juta atau Rp 54,8 miliar (kurs Rp 13.700 kala itu).

Berlanjut ke halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT