ADVERTISEMENT

3 Fakta Ancaman Varian Omicron Bisa Bikin Pemulihan Ekonomi Ambyar

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 30 Nov 2021 18:00 WIB
Virus Corona varian Omicron tengah menjadi sorotan dunia. Varian ini diketahui pertama kali terdeteksi di benua Afrika, salah satunya Afrika Selatan.
Ilustrasi/Foto: AP Photo
Jakarta -

Varian baru COVID-19 lagi-lagi menjadi ancaman pemulihan ekonomi global. Terbaru, ditemukan varian Omicron yang diprediksi bisa bikin laju pemulihan ekonomi global rusak.

1. Ekonomi Ambyar hingga Inflasi

Ancaman terganggunya laju pemulihan ekonomi global akibat varian Omicron diungkapkan oleh lembaga pemeringkat ekonomi global, Moody's Investors Service. Inflasi diprediksi juga bisa meningkat.

Prediksi itu keluar setelah Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyatakan varian tersebut akan menyebabkan kenaikan kasus COVID-19 yang tinggi.

"Varian Omicron menimbulkan risiko terhadap pertumbuhan global dan inflasi, terutama karena datang selama periode rantai pasok yang sudah membentang, inflasi tinggi dan kekurangan pasar tenaga kerja," Associate Managing Director di Moody's, Elena Duggar dikutip dari Reuters, Selasa (30/11/2021).

Lembaga lain, Fitch Ratings mengatakan belum bisa memperkirakan bagaimana dampak varian Omicron bagi ekonomi global karena belum diketahui banyak seberapa tinggi penularan varian Omicron, tetapi inflasi tetap menjadi ancaman.

"Kami saat ini percaya bahwa penurunan global besar dan tersinkronisasi lainnya, seperti yang terlihat pada paruh pertama tahun 2020 sangat tidak mungkin. Tetapi kenaikan inflasi akan memperumit respons ekonomi makro jika varian baru bertahan," kata Fitch.

2. Tambah Utang

Lebih lanjut, Associate Managing Director Moody's, Elena Duggar mengatakan varian Omicron juga akan menyebabkan tekanan keuangan bagi negara-negara yang bergantung pada pinjaman internasional. Kemungkinan mereka akan menambah utang lagi.

"Jika varian baru mempengaruhi selera risiko pasar global, itu akan menyebabkan tekanan keuangan lebih lanjut bagi penerbit utang dengan kebutuhan pembiayaan besar. Misalnya, negara-negara emerging market yang mengandalkan pinjaman pasar internasional mungkin menghadapi risiko refinancing yang lebih tinggi", katanya.

Banyak negara tutup pintu buat Afrika Selatan. Cek halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT