Krisis Chip Belum Teratasi, Harga HP hingga Mobil Siap-siap Meledak

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 03 Des 2021 09:30 WIB
ilustrasi smartphone
Ilustrasi/Foto: Unspslah
Jakarta -

Krisis chip komputer di seluruh dunia telah membatasi pasokan berbagai macam alat elektronik mulai dari Handphone, tv, kulkas hingga mobil baru. Hal ini telah menyebabkan naiknya harga berbagai macam alat elektronik hingga membuat ribuan orang kehilangan pekerjaannya.

Sayangnya, krisis chip global ini mungkin belum akan akan terselesaikan dalam waktu dekat.

Melansir dari CNN, Jumat (3/12/2021), untuk mengatasi krisis chip global ini, Sekretaris Perdagangan Amerika Serikat (AS) Gina Raimondo mengatakan bahwa ada masalah jangka pendek dan masalah jangka panjang yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Masalah jangka pendek yang dimaksud adalah proses distribusi/rantai pasokan chip yang sebagian besar terganggu akibat adanya Covid-19. Sedangkan untuk masalah jangka panjang yang dimaksud adalah peningkatan jumlah produksi chip dalam maupun luar negeri.

"Mudah-mudahan pada saat ini tahun depan atau mungkin sedikit sebelumnya, krisis jangka pendek akan lebih baik," kata Raimondo saat wawancara di kantornya di Washington.

"Masalah jangka panjang akan memakan waktu bertahun-tahun untuk diselesaikan," jelasnya lagi.

Raimondo beranggapan kalau krisis chip global ini merupakan salah masalah yang penting untuk segera diatasi. Sebab bila masalah ini terus berlarut-larut, ke depannya harga barang elektronik dan mobil baru akan terus melonjak.

Selain itu, karena krisis chip global ini pula sejumlah perusahaan-perusahaan besar seperti Apple, Ford, General Motors, dan perusahaan lain terpaksa memperlambat sebagian besar jumlah produksi produk mereka.

Hal ini membuat sejumlah perusahaan terpaksa harus menutup sebagian pabriknya dan memberhentikan ribuan karyawan.

"Setiap perusahaan yang kami ajak bicara telah memberhentikan sejumlah besar pekerja atau merumahkan. Ribuan pekerja, hanya karena kekurangan semikonduktor," kata Raimondo.

"Mereka memiliki semua inventaris lain yang mereka butuhkan, tetapi mereka tidak bisa mendapatkan keripik. Jadi, mereka menutup pabrik."

Oleh sebab itu lah untuk mengatasi krisis chip dalam negeri, pemerintahan Biden sedang bersusah payah untuk memperjuangkan pengesahan undang-undang "CHIPS for America".

Dengan adanya UU tersebut, nantinya pemerintah AS dapat secara sah mengucurkan dana bantuan sebesar US$ 52 miliar atau setara dengan Rp 738,4 triliun (bila dihitung dengan kurs Rp 14.200/dolar AS) untuk mendorong produksi dan penelitian semikonduktor domestik.

"Kami memohon Kongres untuk mengesahkan UU CHIPS. Itu harus terjadi sebelum Natal. Ini tidak bisa memakan waktu berbulan-bulan," kata Raimondo dengan tegas.

(eds/eds)