Pandemi Bikin Krisis Energi di Negara Lain, Jokowi: Jangan Anggap Remeh!

Siti Fatimah - detikFinance
Jumat, 03 Des 2021 14:57 WIB
Presiden Jokowi
Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan dampak pandemi COVID-19 cukup luas. Bahkan, kata dia, efek pandemi dapat mengarah ke keamanan dan ketertiban masyarakat jika tidak bisa dikendalikan.

Dia mengungkapkan, beberapa negara sudah mengalami kelangkaan energi, kelangkaan kontainer, serta inflasi. Jokowi mengatakan, harus berhati-hati terhadap dampak yang semakin melebar tersebut.

"Pandemi juga berefek kepada langkanya energi di beberapa negara sudah terjadi. Pandemi juga berefek pada langkanya kontainer, hati-hati langkanya kontainer berarti distribusi barang ke sebuah negara, ke sebuah pulau ke sebuah kota bisa terganggu. Jangan dianggap remeh hal-hal seperti ini," kata Jokowi dalam Pengarahan Presiden RI Kepada Kepala Kesatuan Wilayah dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (3/12/2021).

"Pandemi juga berdampak pada inflasi yang naik, yang artinya apa? Masyarakat membeli sesuatu yang biasanya 10 menjadi 15, yang biasanya 10 menjadi 12. Hati-hati juga urusan inflasi. Jajaran Polri harus juga tahu mengenai ini," sambung Jokowi.

Dampak lain yang diakibatkan pandemi juga mengarah pada kenaikan harga produsen. Jokowi menjelaskan, jika biaya produksi di manufaktur dan industri naik maka akan memberatkan masyarakat.

"Pandemi juga berdampak pada kenaikan harga produsen, artinya biaya di produksi, di manufaktur di industri naik. Kelihatannya nggak berdampak apa-apa kenaikan biaya produsen. Hati-hati kalau harga di produsen naik artinya nanti larinya juga harga di konsumen naik, masyarakat menjadi berat untuk membeli sesuatu," paparnya.

Meski begitu, Jokowi bersyukur perkembangan COVID-19 di Indonesia kini dapat dikendalikan. Pemerintah mencatat, kasus harian saat ini 311 dari yang asalnya naik pada Juli sebesar 56 ribu.

"Kita Alhamdulillah perkembangan COVID di Indonesia yang dulu kita pontang-panting di pertengahan Juli sampai 56 ribu kasus harian, turun menjadi kemarin 311. Ini sebuah capaian yang luar biasa dan tidak semua negara mengalami ini. Yang di level 1 sekarang ini Indonesia, China, India, Jepang, Taiwan," ungkapnya.

"Ini negara besar sekali, gede banget tapi kita bisa mengendalikan. Itu yang kita harus benar-benar bersyukur, tapi ancaman ini belum selesai. Kita boleh bersyukur, berbangga tapi tetap harus waspada," pungkasnya.

(fdl/fdl)