Harga Cabai Bisa Makin 'Pedas' Efek Erupsi Semeru, Kok Bisa?

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 06 Des 2021 12:47 WIB
Sumberwuluh merupakan salah satu desa yang paling parah terdampak erupsi Gunung Semeru. Warga pun mengungsi dengan membawa ternak dan harta bendanya.
Foto: AFP/Juni Kriswanto
Jakarta -

Harga cabai sudah memasuki tren kenaikan jelang natal dan tahun baru 2022. Pedagang mengungkap efek dari erupsi Gunung Semeru juga bisa menjadi dampak tambahan kenaikan harga cabai, mengingat Kabupaten Lumajang di dekat Gunung Semeru menjadi salah satu wilayah penghasil cabai terbesar.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan saat ini dampak erupsi Gunung Semeru belum kelihatan untuk kenaikan komoditas pangan. Namun, dia memperkirakan hal itu bisa menjadi salah satu faktor.

"Sekarang ini dampaknya belum kelihatan karena baru beberapa hari ini. Setahu saya produksi di Lumajang dekat Gunung Semeru lebih banyak cabai keriting ya. Kalau sekarang faktornya (harga naik) cuaca, apalagi ditambah efek Gunung Semeru," katanya kepada detikcom, Senin (6/12/2021).

Harga cabai keriting sendiri dalam laman Info Pangan Jakarta sudah tembus Rp 50.717/kilogram. Kemudian, Abdullah lebih lanjut mengungkap harga cabai rawit sudah tembus Rp 66.000-67.000/ kilogram dari sebelumnya hanya Rp 50.000/kg.

"Kenaikan cabai rawit ini bisa Rp 10.000 per harinya. Kalau cabai merah besar sudah di angka Rp 54.000-55.000/kg sebelumnya Rp 33.000 di minggu lalu," jelasnya.

Pengaruhnya harga cabai yang dinilai bisa tinggi karena Gunung Semeru Erupsi karena memang Jawa Timur sendiri menjadi penghasil cabai unggulan dan relatif besar di Indonesia. Hal ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik Jawa Timur Tahun 2019.

Dalam data tersebut, ada beberapa Kabupaten di Jawa Timur yang memiliki lahan pertanian cabai merah-rawit yang cukup luas. Salah satunya Lumajang, untuk lahan cabai merah tercatat ada luas lahan pertanian sebanyak 639 hektare (ha). Sedangkan, lahan pertanian cabai rawit di Lumajang sendiri memiliki 1.273 ha.

Sepanjang 2019 itu, produksi cabai rawit dan merah di Lumajang juga cukup besar. Cabai merah mencapai 7.403 ton dan cabai rawit mencapai 162.447 ton.

Lumajang bukan satu-satunya Kabupaten penghasil cabai terbesar, ada Kabupaten Malang yang memiliki luas lahan pertanian cabai merah sebesar 2.241 ha, Kabupaten Blitar 1.387 ha, Kabupaten Tuban 1.778 ha, dan Kabupaten Jember 549 ha.

Lahan pertanian cabai rawit, untuk Kabupaten Blitar punya lahan pertanian cabai rawit 11.024, lalu ada Kediri dengan luas 7.333 ha. Kabupaten Malang luas lahan pertanian cabai rawit seluas 4.495 ha, lalu ada Banyuwangi 4.271 ha, Jember 2.329 ha, dan masih banyak kabupaten lainnya yang juga punya lahan pertanian luas untuk cabai.



Simak Video "Harga Cabai di Demak Anjlok dan Tak Lagi Pedas"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)