Terlilit Utang Jumbo, Angkasa Pura I Sasar Rp 3,8 T dari Perampingan

Siti Fatimah - detikFinance
Senin, 06 Des 2021 13:35 WIB
PT Angkasa Pura I memprediksi kenaikan jumlah penumpang pada liburan Nataru 2021 sebesar 25 persen. Atau berkisar 10 ribu orang penumpang setiap harinya.
Foto: PIUS ERLANGGA
Jakarta -

PT Angkasa Pura I (Persero) tengah terlilit utang sebesar Rp 35 triliun. Operator bandara ini menargetkan tambahan dana dari restrukturisasi sebesar Rp 3,8 triliun.

Selain itu, perseroan juga menargetkan dapat tambahan dana dari efisiensi biaya sebesar Rp 704 miliar dan perolehan fundraising (penggalangan dana) sebesar Rp 3,5 triliun.

Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi mengatakan, upaya restrukturisasi tersebut dapat tercapai pada Januari 2022 mendatang. Pihaknya optimis dapat melewati kondisi tersebut dengan berbagai macam strategi.

"Manajemen tengah berupaya keras untuk menangani situasi sulit ini dan berkomitmen untuk dapat survive dan menunaikan kewajiban perusahaan kepada kreditur, mitra, dan vendor secara pasti dan bertahap. Dengan berbagai inisiatif strategis tersebut kami optimis dapat bertahan menghadapi kondisi sulit ini dan mulai bangkit pada 2022 serta dapat mencatatkan kinerja keuangan positif," kata Faik dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/12/2021).

Faik mengatakan, dalam hal restrukturisasi, Angkasa Pura I akan akan melakukan upaya asset recycling, intensifikasi penagihan piutang, pengajuan restitusi pajak, efisiensi operasional seperti layanan bandara berbasis trafik, simplifikasi organisasi, penundaan program investasi serta mendorong anak usaha untuk mencari sumber-sumber pendapatan baru (transformasi bisnis).

"Kami optimis dengan program restrukturisasi ini dapat memperkuat profil keuangan perusahaan ke depan. Terutama kemampuan kami untuk memastikan penambahan pendapatan cash in, efisiensi biaya dan upaya fundraising," ujarnya.

Selain itu, untuk mendorong peningkatan pendapatan lainnya, transformasi bisnis usaha yang dilakukan Angkasa Pura I, kata dia, dengan menjalin kerja sama mitra strategis untuk Bandara Hang Nadim Batam, Bandara Dhoho Kediri, Bandara Lombok Praya dan mengembangkan airport city Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) serta eks Bandara Selaparang Lombok.

Dia mengakui, kondisi keuangan dan operasional perusahaan selama pandemi COVID-19 mengalami tekanan yang cukup besar. Pendapatan per 2019 mencapai Rp 8,6 triliun kemudian anjlok drastis pada 2020 di mana perusahaan hanya meraih pendapatan Rp 3,9 triliun.

Lanjut halaman berikutnya.