ADVERTISEMENT

Utang Tembus Rp 6.687 Triliun, Kemenkeu Sebut Rasionya Masuk Terendah Dunia

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 06 Des 2021 17:05 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan bahwa utang Indonesia masih dalam posisi aman. Jumlah utang pemerintah per akhir Oktober 2021 sebesar Rp 6.687,28 triliun.

Kepala BKF Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu menjelaskan alasan yang membuat pemerintah percaya diri terkait jumlah utang. Salah satunya karena rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) disebut paling rendah sebelum pandemi COVID-19.

"Utang Indonesia tidak masalah, tidak ada masalah utang kita sekarang. Selama bertahun-tahun khususnya mulai 2016, defisit kita itu selalu di bawah 3%, lebih sering di bawah 2% dari PDB. Jadi fiskal kita sangat disiplin, itulah yang membuat rasio utang kita terhadap PDB sangat rendah di 30% sebelum pandemi 2019. Itu salah satu level utang terendah di dunia apalagi untuk negara yang nomor 16 seperti Indonesia," katanya dalam webinar 'Presidensi G20 - Manfaat Bagi Indonesia dan Dunia', Senin (6/12/2021).

Pemerintah pun akan menekan defisit fiskal sebesar 3% pada 2023 sehingga masyarakat diminta tak perlu khawatir. Target itu diyakini bisa tercapai karena Indonesia memiliki komitmen disiplin fiskal yang selama ini sudah dipegang baik.

"Jadi utang kita tidak masalah karena kita punya komitmen disiplin fiskal yang sangat baik, itu yang membuat kita selama pandemi punya modal yang kuat secara fiskal untuk bisa menaikkan utang dengan sangat kredibel. Jadi jangan khawatir, utang kita aman," yakin Febrio.

Febrio menyebut kenaikan utang Indonesia selama pandemi 'hanya' 10% dari PDB. Saat ini jumlahnya setara dengan 39,69% per akhir Oktober 2021. Porsi utang itu disebut akan terus turun setiap tahunnya.

"Argentina selama pandemi naik utangnya 50% dari PDB makanya sekarang krisis, China pun naiknya tinggi sekali sampai 40-an%, Brazil naiknya tinggi sekali utangnya makannya krisis sekarang, Turki juga sama," imbuhnya.



Simak Video "Utang Pemerintah Meroket, Per April 2021 Capai Rp 6.527 T"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT