Tanpa Investor, Bagaimana Brand Skin Care Bhumi Kembangkan Bisnis?

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Selasa, 14 Des 2021 17:08 WIB
Chief Operating Officer (COO) Bhumi, Ahmad Rashed
Foto: dok. Yudistira Perdana Imandiar/detikcom
Jakarta -

Di tengah menjamurnya perusahaan rintisan atau startup di Indonesia, PT Riza Kreasi Naturalindo sebagai produsen skin care dengan brand Bhumi, memilih menjalankan bisnis tanpa investor. Dengan pola bisnis bootstrap ini, Bhumi lebih leluasa untuk berkembang sesuai idealisme yang dipegang.

Chief Operating Officer (COO) Bhumi, Ahmad Rashed mengungkapkan brand Bhumi dirintisnya sejak tahun 2017 bersama sang kakak. Perusahaan didirikan dan dijalankan dengan modal dana pribadi mereka, tanpa ada campur tangan investor atau pinjaman.

Ahmad menjelaskan sampai saat ini perusahaannya belum menjaring dukungan modal dari pihak manapun. Salah satu alasan utamanya, karena Ahmad dan sang kakak ingin Bhumi terlebih dahulu mapan dari segi kualitas produk, brand positioning, hingga performa bisnis. Mereka ingin bisnis yang dirintis ini berkembang sesuai visi yang ditetapkan sejak awal.

"Sama kalau kita punya baby. Kita ga mau diurus yang lain, kita maunya anak ini kita urus sendiri," kata Ahmad kepada detikcom, Senin (13/12/2021).

Ahmad menuturkan, Bhumi mengedepankan kualitas produk agar dapat menjawab kebutuhan konsumen di Indonesia. Ia mengatakan setiap produk yang dikeluarkan Bhumi telah melalui proses research and development (R&D) yang komprehensif. Selain itu, material yang digunakan dipilih secara selektif untuk memastikan kandungannya efektif dan aman untuk digunakan konsumen.

"Material kita ada beberapa yang impor, dan dipastikan kualitasnya baik dan aman. Selain itu, ada juga bahan-bahan yang memang cuma ada di Indonesia, seperti minyak sandalwood dari Papua itu kita pakai," urai Ahmad.

Selain itu, kata dia, setiap produk yang dirilis Bhumi sudah dipastikan aman untuk digunakan. Jika masih ditemukan ketidakcocokan pada responden yang terlibat dalam proses R&D, produk akan diformulasi ulang.

"Kalau sudah di atas 80 persen (responden) cocok, baru kita rilis. Kalau baru 50-60 persen yang cocok nggak akan kita keluarkan," tegas Ahmad.