Sri Mulyani Bandingkan Pemulihan Krisis 98 & Corona, Cepat Mana?

ADVERTISEMENT

Sri Mulyani Bandingkan Pemulihan Krisis 98 & Corona, Cepat Mana?

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 15 Des 2021 15:54 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim pemulihan ekonomi Indonesia dari COVID-19 lebih cepat dibanding krisis moneter yang terjadi tahun 1997-1998. Hal itu dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi sebelum krisis terjadi.

Sri Mulyani mengatakan saat krisis 1997-1998 terjadi butuh waktu 4 tahun untuk mengembalikan Produk Domestik Bruto (PDB) ke level sebelum krisis. Sedangkan saat COVID-19, dalam waktu 1,5 tahun pemulihan sudah mulai terjadi.

"Untuk COVID-19 alhamdulillah karena sektor keuangan, dunia usaha, dan instrumen serta kebijakan pemerintah yang responsif, dalam waktu 1,5 tahun kita telah mampu kembali kepada pre COVID GDP level," kata Sri Mulyani dalam acara 'Working Lunch B20, Outlook Ekonomi Indonesia 2022', Rabu (15/12/2021).

Pemulihan ekonomi yang mulai pulih disebut sudah dirasakan oleh masyarakat. Pemulihan ini tidak hanya dilihat dari sisi peningkatan daya beli, tapi dalam bentuk peningkatan kesempatan kerja.

"Atau dalam bentuk kegiatan ekonomi yang muncul baik karena G20 maupun pemulihan ekonomi yang memang sudah meningkat," imbuhnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga menyebut jumlah pengangguran perlahan menurun setelah melonjak saat awal pandemi COVID-19.

"Ini adalah sesuatu yang patut kita syukuri dan membanggakan, namun ini berarti belum selesai tugas kita," tuturnya.

Meski begitu, Sri Mulyani tidak memungkiri bahwa dunia masih dihadapkan pada pandemi COVID-19 yang terus bermutasi. Untuk itu, dalam pertemuan G20 pihaknya memasukkan aspek COVID-19 sebagai prasyarat pemulihan ekonomi.

Pembicaraannya meliputi penanganan COVID-19 antar negara, akses vaksinasi yang merata, serta normalisasi kebijakan antar negara yang tidak menimbulkan efek rambatan (spill over) buruk kepada negara lain.

"Kita selalu mengatakan, berapa banyak negara yang mampu memiliki akses vaksin dan bagaimana program vaksinasi bisa diakselerasi. Tentu kalau Indonesia memimpin pertemuan G20, kita harus menunjukkan kita mampu menangani COVID-19 karena ini akan menentukan kredibilitas dan efektivitas leadership," tandasnya.

Lihat juga Video: Luhut Klaim Ekonomi RI 2022 Bisa Tumbuh 5%, Asal Covid Terkendali

[Gambas:Video 20detik]



(aid/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT