Begini Jurus Supaya UKM RI Bisa Go Internasional

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 15 Des 2021 18:40 WIB
Bisnis kerupuk ikut terdampak pandemi COVID-19. Produksi kerupuk di UKM Kerupuk Melati, Jakarta, bahkan turun 40 persen dari kondisi normal.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Usaha kecil menengah (UKM) Indonesia bisa naik kelas dan mendunia. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya UKM ini bisa go internasional.

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank memiliki beberapa jurus untuk mengantarkan UKM agar bisa mendunia. Misalnya dengan Coaching Program for New Exporters (CPNE), LPEI berupaya memajukan pengembangan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi demi mendapatkan produk - produk yang bernilai jual tinggi dan berorientasi ekspor.

Direktur Pelaksana II Indonesia Eximbank, Maqin U. Norhadi mengatakan dengan ini diharapkan dapat mendukung percepatan peningkatan ekspor nasional, membantu peningkatan kemampuan produksi nasional yang berdaya saing tinggi serta memiliki keunggulan untuk ekspor.

"Program CPNE dapat diikuti oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk meningkatkan kapasitasnya agar bisa masuk dunia ekspor. Mereka akan dibekali dengan pelatihan mengenai standar kualitas produk ekspor, sertifikasi, klasifikasi harmonized system (HS Code) dan lainnya," kata dia, Rabu (15/12/2021).

Dia mengungkapkan CPNE merupakan program LPEI dalam bentuk pelatihan dan pendampingan yang berorientasi ekspor diperuntukkan bagi para pelaku usaha dan juga anggota koperasi.

Program pelatihan dan pendampingan ini dilakukan selama satu tahun dan tidak dipungut biaya. LPEI/ Indonesia Eximbank menerapkan beberapa strategi untuk membantu para pelaku UKM agar naik kelas, salah satunya dengan mengedepankan program pengembangan masyarakat berbasis komoditas.

Program ini dirancang sebagai solusi bagi para pelaku usaha dan dilaksanakan secara terintegrasi seperti Desa Devisa yang merupakan program pengembangan masyarakat berbasis komoditas untuk menghasilkan devisa, dan marketing handholding yang merupakan program memasarkan produk yang dihasilkan UKM secara digital melalui marketplace global.

Maqin menjelaskan, dari data pada akhir November 2021 lalu, kita sudah memberikan pelatihan kepada 2.706 pelaku UKM tersebar di 15 kota, dan terdapat 75 pelaku usaha yang merupakan lulusan CPNE yang telah berhasil melakukan ekspor perdana serta sudah ada 6 program Desa Devisa yang melibatkan 26 desa dengan total 2.894 petani/pengrajin.

Capaian tersebut tidak terlepas dari sinergi dan kolaborasi antar lembaga dan dukungan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk meningkatkan potensi kawasan dan mendorong pelaku usahanya.

Pada tanggal 6 November 2021 telah diluncurkan Desa Devisa Garam Kusamba yang merupakan kolaborasi dan sinergi antara Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan, Pemerintah Kabupaten Klungkung, dan LPEI.

Tujuan program ini selain untuk membawa garam lokal berkualitas menjadi lebih mendunia, juga diharapkan dapat dan mampu meningkatkan taraf perekonomian, sosial dan lingkungan setempat.

"Sebagai salah satu Special Mission Vehicle (SMV) dari Kementerian Keuangan, kami merupakan lembaga keuangan khusus yang didirikan Pemerintah yang salah satu kegiatannya adalah memberikan pembiayaan kepada eksportir/pelaku usaha yang berorientasi ekspor untuk dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia maupun jasa di pasar global. LPEI menyiapkan wadah one stop service solution bagi para pelaku usaha berorientasi ekspor," ujar Maqin.

Lihat juga video 'Pelaku UMKM yang Masuk Ekosistem Digital Alami Peningkatan':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/zlf)