Apa Sih yang Bikin Harga Cabai Rawit Merah dan Telur Mahal Banget?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 28 Des 2021 17:03 WIB
Harga cabai di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, masih ganas, Rabu (13/01/2021). Cabai rawit merah merah dibandrol Rp 75 ribu//Kg.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Harga cabai rawit merah saat ini sudah berada di atas Rp 100 ribu per kilogram. Tak cuma cabai rawit merah harga telur ayam ras juga tercatat mengalami kenaikan yang signifikan hingga di atas Rp 30 ribu per kilogram.

Ekonom Institute for Development of Economics (INDEF) Rusli Abdullah mengungkapkan untuk harga cabai rawit merah ini memang karena musim hujan di akhir tahun.

"Sudah siklusnya kalau harga cabai rawit merah ini mahal, lalu permintaan juga tinggi," kata dia saat dihubungi detikcom, Selasa (28/12/2021).

Rusli mengungkapkan sedangkan untuk kenaikan harga telur itu terjadi karena adanya ketidakpastian saat pemberlakuan PPKM di akhir tahun ini. Selain itu ada juga faktor harga pakan yang tinggi, hal ini turut mempengaruhi harga telur.

Dia menyebutkan, ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan akhir tahun akan ada PPKM level 3, maka orang-orang tidak menyiapkan diri untuk bahan pokok. Tapi ketika diumumkan lagi PPKM hanya level 1, orang melakukan bepergian, makan di luar rumah dan ini mendorong konsumsi bahan pokok meningkat drastis.

"Ekspektasi masyarakat dan pasar itu kan PPKM level 3, tapi tiba-tiba level 1. Berubah dong, orang bepergian, makan dan minum di luar, di hotel ini mendorong permintaan. Kebetulan di telur ini ada masalah, supply-nya tidak seperti biasa," jelas dia.

Kemudian, ada juga masalah fundamental di lapangan karena ketidakpastian kebijakan terkait COVID-19. "Siapa yang sangka, kemarin harga telur jatuh sejatuh-jatuhnya lalu tiba-tiba naik tinggi banget. Fluktuasi ini karena COVID-19 juga mengacaukan supply and demand," jelasnya.

Dia mengatakan pemerintah juga harus menelusuri terkait harga telur ini. Jika gap harga antara peternak dan konsumen itu terlalu jauh maka patut diduga ada pemain yang menimbun barang.

"Perlu ditelusuri itu, kalau standarnya semakin lebar harus dicek pada rantai distribusinya," jelas dia.

(kil/eds)