Wadidaw, Inflasi AS Tertinggi dalam 40 Tahun Gara-gara Ini

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 13 Jan 2022 18:00 WIB
The U.S. Capitol is seen between flags placed on the National Mall ahead of the inauguration of President-elect Joe Biden and Vice President-elect Kamala Harris, Monday, Jan. 18, 2021, in Washington.
Foto: AP/Alex Brandon
Jakarta -

Inflasi di Amerika Serikat (AS) tahun 2021 tercatat 7% dan merupakan yang tertinggi selama 40 tahun terakhir.

Dikutip dari BBC kenaikan inflasi ini terjadi karena adanya permintaan yang besar tapi tak diimbangi dengan ketersediaan barang.

Misalnya dari mobil, rumah sampai produk lain di pasaran. Data Departemen tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen (IHK) AS pada Desember mencatat inflasi tahunan AS berada di atas 6%.

Untuk menghadapi kondisi ini, bank sentral AS diramal akan menaikkan suku bunga acuan. Karena dengan naiknya biaya pinjaman maka akan menurunkan permintaan dan membuat harga mobil dan rumah menjadi lebih mahal.

Namun opsi mengerek suku bunga untuk melawan inflasi disebut bisa membuat ekonomi makin lambat. Hal ini sudah terjadi di Inggris, ketika bank sentral menaikkan suku bunga bulan lalu untuk memerangi kenaikan harga yang tinggi.

Kasus Omicron yang terjadi pada akhir 2021 lalu memang diproyeksi dapat mengganggu proses pemulihan ekonomi AS. Tahun 2022 ekonomi diramal bisa bangkit namun tetap dibayangi kekhawatiran lonjakan kasus COVID-19.

Bank sentral memang terus menghadapi banyak krisis dalam beberapa dekade terakhir. "Kerangka kebijakan moneter The Fed sekarang sedang dijui secara real time," kata Kepala Ekonom Morning Consult John Leer.

Ahli Strategi Makro AS Truist Financial Mike Skordeles kondisi inflasi ini akan mempengaruhi permintaan dan daya beli masyarakat. Hal ini terjadi karena harga yang terlalu tinggi membuat masyarakat tak mampu membayar dan membeli barang.

Kepala riset Invesco Kristina Hooper mengungkapkan memang Fed sebagai pemangku kebijakan selalu dihadapkan risiko salah mengambil langkah.

Namun, Hooper menyakini Jerome Powell mampu menjaga moneter AS sehingga tak menimbulkan gejolak. "Banyak yang waspada tentang stagflasi, tapi saat ini AS tidak punya pengangguran yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi berada di atas tren ekonomi dunia," jelas dia.



Simak Video " Inflasi di Iran, Harga Bahan Pokok Melambung Naik"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)