ADVERTISEMENT

Ekonomi China Melesat 8,1%, Kebal Pandemi?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 18 Jan 2022 08:46 WIB
Bendera China
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi China pada 2021 tercatat sebesar 8,1%, angka ini telah melampaui target yang disusun oleh pemerintah.

Dikutip dari CNN, Selasa (18/1/2022), disebutkan meskipun tumbuh, masih ada tantangan yang besar ke depannya misalnya masih ada krisis real estate, COVID varian baru hingga pembatasan kegiatan demi mengendalikan virus.

Pada kuartal terakhir 2021 produk domestik bruto (PDB) China hanya tumbuh 4%. Ini merupakan yang terendah dalam jangka waktu satu setengah tahun.

China berupaya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga tahun 2022 ini. Bahkan bank sentral China pada Senin sudah memangkas suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak April 2020 untuk mendorong kegiatan perekonomian.

Kepala Biro Statistik China Ning Jizhe mengungkapkan jika pertumbuhan ekonomi China masih dalam tekanan. Pertumbuhan pada kuartal keempat didukung oleh industri yang naik 4,3% pada Desember dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kemudian ekspor China melonjak 21%, melebihi target yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun untuk konsumsi melemah karena Covid varian baru yang terjadi di Zhejiang dan Xi'an. Hal tersebut terjadi karena pemerintah menutup kembali tempat hiburan, pabrik dan ribuan orang harus dikarantina.

Penjualan ritel hanya tumbuh 1,7% pada Desember, angka ini merosot dibandingkan periode November yang mencapai 3,9%. Kondisi ini juga membuat investasi di sektor properti dan perumahan mengalami penurunan.

Kepala ekonom Macquarie Group Larry Hu mengungkapkan ekonomi China memang tertekan tahun lalu akibat Omicron.

Hu menyebutkan pemangkasan suku bunga acuan yang dilakukan bank sentral AS diharapkan bisa membuat suku bunga kredit menjadi lebih rendah.

Analis JP Morgan Asset Management Zhu mengungkapkan jika pemerintah China masih akan menghadapi tekanan dan tantangan untuk menghilangkan Corona.

Namun langkah tersebut bisa menjadi masalah serius untuk ekonomi China tahun 2022. "Adanya varian baru, lockdown dan masalah ketersediaan barang di industri otomotif akan membuat konsumsi terganggu," jelas dia.

Menurut dia Omicron turut mengganggu rantai pasok barang untuk pabrik-pabrik. Hal ini karena banyak kapal yang tertahan di pelabuhan karena hampir semua wilayah memperketat arus keluar masuk barang jelang Tahun Baru Imlek.

Misalnya Terminal Shekou di Shenzhen yang membatasi truk yang mengakut peti kemas. Para pengemudi ini hanya bisa masuk terminal jika mereka sudah memesan slot tiga hari sebelumnya.

Pemerintah China diminta untuk mengambil kebijakan yang tepat dan memutuskan arah kebijakan ekonomi tahun 2022 misalnya memprioritaskan investasi pada sektor infrastruktur dan mendukung pasar perumahan komersial.



Simak Video "Sistem Regulasi Vaksin China Lolos Penilaian WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT