Petani Makin Gampang Dapat Pendampingan, Begini Caranya

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 18 Jan 2022 08:30 WIB
Cuaca mendung dan hujan selama dua hari ini, membuat petani tembakau di lereng Merapi-Merbabu harus turun gunung. Hal itu dilakukan demi untuk mendapatkan sinar matahari.
Foto: Ragil Ajiyanto
Jakarta -

Alhairi dan Mursidi adalah dua dari puluhan ribu petani yang merasakan manfaat dan peningkatan perekonomian setelah menjadi petani mitra melalui perusahaan pemasok tembakau yang bermitra dengan PT HM Sampoerna Tbk. Tak ada lagi cerita gigit jari saat gagal panen.

Alhairi dan ribuan petani lainnya menjadi bagian dari Integrated Production System (IPS) atau Sistem Produksi Terintegrasi yang telah dijalankan Sampoerna sejak tahun 2009 di beberapa sentra penanaman tembakau di Pulau Jawa dan Lombok. Ada tiga komponen yang berkaitan langsung dengan IPS yaitu petani, pemasok, dan pabrikan. Pada tahun 2021, jumlah petani tembakau yang telah bergabung dalam program kemitraan ini berjumlah lebih dari 21.000 orang.

Keuntungan menjadi petani mitra

Pekerjaan sebagai petani tembakau telah dijalani Alhairi selama kurang lebih 20 tahun di Jember, Jawa Timur. Pekerjaan yang dilakoni turun temurun dari orangtuanya, dengan segala suka dan duka. Setelah bergabung dengan perusahaan mitra Sampoerna, tak ada keresahan lagi. Petani yang menjadi bagian mitra pemasok tembakau untuk Sampoerna, memiliki kontrak pembelian dengan supplier, untuk jaminan pembelian hasil panen sesuai kuantitas dan kualitas yang disepakati di awal.

Alhairi bergabung menjadi petani mitra Sampoerna sejak 2017.

"Sebelum bermitra, kalau ada masa-masa seperti bencana alam, jatuh sudah. Rugi banyak itu sudah. Bisa jual-jual sawah, soalnya tidak ada jaminan untuk dibeli. Setelah ikut mitra, ada jaminan dibeli. Pokoknya waktu Gunung Rawu meletus, yang ikut mitra untung, selamat. Yang tidak mitra, seperti saya, jatuh waktu itu. Jadi keuntungannya itu banyak, ada jaminan dibeli," kata Alhairi.

Banyak perubahan dan keuntungan yang didapatkan Alhairi sejak bergabung sebagai petani mitra. Petani mitra juga mendapatkan berbagai pelatihan dan dukungan teknis sehingga mendapatkan hasil panen dengan kualitas terbaik.

"Ya dari bedengan sampai pasca panen itu diajari semua sama pendamping," kata dia.

"Sebelum mitra tidak diajari. Setelah ikut mitra kan dapat ilmu seperti bedengan bagus, terus rendemen dari sawah itu tinggi. Soalnya diajari diberi obat sehingga rendemen tinggi. Sebelum mitra, tidak ada. Tradisional saja," papar Alhairi.

Dengan berbekal pengetahuan itu, kini mutu tembakau hasil panennya lebih bagus. Penggunaan alat dan mesin yang lebih modern, menurut Alhairi, juga membuatnya bisa berhemat dari sisi biaya. Contohnya, kata dia, ada dukungan penggunaan kultivator yang membuatnya bisa menghemat waktu dan biaya saat mempersiapkan lahan yang akan ditanami tembakau.

Hal yang sama diutarakan Mursidi, yang telah menjadi petani tembakau sejak 2012. Ia bergabung menjadi petani mitra pada 2016. Menurut Mursidi, sejak menjadi petani mitra, ada keuntungan yang dirasakannya dari sisi penjualan dan dari sisi pertanian.

"Penjualan itu bisa langsung masuk gudang. Dari sisi pertanian, cara menggarap di sawah, dikawal sama petugas. Pelatihan yang didapatkan mitra itu banyak. Kami diajarkan cara menggunakan teknologi, dulu pakai manual terus. Sama petugasnya didampingi caranya memakai kultivator, pakai mesin. Itu juga lebih irit," ujar Mursidi.

Keluarga lebih sejahtera, bisa sekolahkan anak hingga pendidikan tinggi

Para petani mengakui, perekonomian keluarga menjadi lebih baik sejak menjadi bagian dari program kemitraan. Mursidi, misalnya, kini sudah bisa membangun rumah sendiri bagi keluarganya. Dari hasil penjualan tembakau, satu dari tiga anaknya kini bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Anak sulungnya kini tengah menempuh pendidikan di sebuah politeknik di Surabaya, Jawa Timur.

"Bisa menabung, terasa hasilnya. Hasilnya kan lumayan dibanding kita menanam padi, palawija. Lumayan. Bedanya memang jauh. Enak lah," kata Mursidi.

Lahan garapannya kini juga bertambah luas, lebih dari 2 hektar.

Kisah yang hampir sama juga dibagikan Alhairi. Satu dari tiga anaknya juga mengenyam pendidikan tinggi. Tak hanya mengalokasikan pendapatannya dari bertanam tembakau untuk pendidikan anak, Alhairi juga menginvestasikan penghasilannya dalam bentuk alat pertanian. Kini, ia mempunyai tiga kultivator.

Kebahagiaan lain yang dirasakannya adalah membuka kesempatan bekerja bagi para tetangga dan berdampak terhadap perekonomian lingkungan sekitar. Menurut Alhairi, ada 10 pekerja yang membantunya bertanam tembakau.

"Berdampak ke ekonomi tetangga, karena saya bisa mempekerjakan tetangga," ujar Alhairi.

Sementara, Mursidi mempekerjakan lebih banyak orang seiring dengan meluasnya lahan pertanian tembakaunya. Total, ada 12 orang yang dipekerjakan Mursidi. Dari 12 orang itu, 8 orang di antaranya adalah pekerja perempuan.

Dukungan untuk petani tembakau

Selain mendapatkan komitmen pembelian tembakau, petani yang menjadi mitra dalam IPS memperoleh berbagai kebutuhan untuk bertani dan mendapatkan dukungan teknis. Dukungan itu dalam bentuk perlengkapan modern untuk meningkatkan efisiensi (Sustainable Tobacco Production Initiative atau Inisiatif Produksi Tembakau Berkelanjutan).

Untuk memastikan keamanan, kesehatan, dan kesejahteraan petani beserta pekerjanya, Sampoerna juga memberikan pelatihan Good Agricultural Practices dan Agricultural Labor Practices (Praktik Pekerja Pertanian yang Baik). Hal ini bagian dari kepatuhan pada standar dan peraturan yang berlaku.

Sistem Produksi Terintegrasi memberikan manfaat bagi petani maupun pabrikan. Bagi petani, seperti disampaikan Alhairi dan Mursidi, terdapat kontrak pembelian hasil panen sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang telah disepakati. Jaminan ini turut berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan mereka. Petani mendapatkan pendapatan bersih yang lebih tinggi karena panen yang mereka hasilkan berkualitas baik dan langsung mendapatkan akses untuk menjual hasil panennya kepada Suppliers tanpa melalui pengepul

Melalui berbagai pelatihan yang didapatkan, petani mendapatkan pengetahuan tentang strategi meningkatkan efisiensi dan berpotensi menggarap lahan yang lebih luas. Sementara, pabrikan mendapatkan pasokan tembakau berkesinambungan serta integritas produk.

Ke depannya, baik Alhairi maupun Mursidi berharap, kemitraan ini akan terus berjalan dan memberikan keuntungan untuk semua pihak yang terlibat dalam Sistem Produksi Terpadu.

"Harus tetap jalan. Sama-sama untung semua. Itu saja," kata Alhairi.

(fdl/fdl)