Investor Singapura Tanam Modal buat Daur Ulang Sampah Plastik di RI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 19 Jan 2022 17:11 WIB
Nelayan beraktivitas di dekat tumpukan sampah yang berserakan di Pantai Dadap, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (15/1/2022). Sampah yang sebagian besar dari limbah rumah tangga dan plastik tersebut terseret arus dan menumpuk di pantai sehingga mengganggu aktivitas nelayan. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/hp.
Sampah plastik/Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Jakarta -

Perusahaan manajemen investasi yang berbasis di Singapura, Circulate Capital memberikan suntikan modal untuk inovasi, perusahaan dan Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk memerangi polusi plastik di laut.

Selain itu visi perusahaan ini adalah memerangi perubahan iklim dengan memajukan ekonomi sirkular netral carbon. Circulate Capital Ocean Fund (CCOF) telah berinvestasi di perusahaan Prevented Ocean Plastic Southeast Asia.

Perusahaan yang bergerak dalam pengumpulan dan daur ulang limbah plastik ini tengah memelopori model mata rantai pengelolaan limbah plastik yang inovatif. Prevented Ocean Plastic Southeast Asia adalah hasil kerja sama yang unik antara PT Polindo Utama (Polindo), Bantam Materials Ltd (Bantam Materials), dan Circulate Capital.

Perusahaan ini berkomitmen untuk memperluas infrastruktur daur ulang di Indonesia secara strategis, terutama di wilayah yang kurang atau tidak memiliki infrastruktur pengelolaan limbah plastik.

Melalui pendanaan dari CCOF, Prevented Ocean Plastic Southeast Asia akan membangun rantai nilai pengumpulan dan daur ulang plastik yang sistematis di beberapa wilayah pesisir luar Jawa, terutama di wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Sebagai bagian dari rencana ini, 12 pusat pengumpulan limbah plastik dan tiga pusat agregasi dengan skala yang lebih besar akan dibangun.

Founder dan CEO Circulate Capital Rob Kaplan mengatakan Prevented Ocean Plastic Southeast Asia mengharapkan pasokan komoditas plastik daur ulang berkualitas premium, bersertifikat, dan dapat ditelusuri asalnya (traceable) untuk pasar global. Adanya infrastruktur tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi di seluruh mata rantai, mulai dari para pengumpul limbah plastik di Indonesia hingga ke konsumen akhir.

Hal ini diharapkan bisa merampingkan proses logistik dan pengumpulan limbah sehingga efisiensi dapat maksimal dan biaya terkurangi. Seluruh aktivitas di pusat-pusat pengumpulan limbah juga akan melalui proses audit dan sertifikasi dari program terdepan Prevented Ocean Plastic yang penting dilakukan untuk mendapat akses pasar dan harga premium komoditas plastik daur ulang.

Dalam periode 10 tahun, perusahaan ini memperkirakan bahwa aktivitasnya akan dapat mencegah kebocoran 400.000 ton limbah plastik ke laut, menghindari 800.000 ton emisi GHG, sekaligus menciptakan 1.000 lapangan kerja dan membuka peluang pendapatan baru bagi ribuan pengumpul limbah plastik.

Pertumbuhan populasi di Indonesia dan perkembangan ekonomi yang pesat telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan yang eksponensial dalam konsumsi plastik. Sistem pengelolaan dan daur ulang sampah plastik di Pulau Jawa sudah relatif lebih mapan, terutama di Jakarta dan Surabaya. Sementara di kota-kota kecil di dalam dan luar Pulau Jawa masih kekurangan infrastruktur pengumpulan dan daur ulang limbah plastik yang efisien. Hal tersebut mengakibatkan tingginya tingkat polusi plastik dan emisi gas rumah kaca.

CEO Polindo Daniel Law, mengatakan kerja sama ini memungkinkan perusahaan untuk mengembangkan infrastruktur pengumpulan sampah yang dapat memenuhi banyaknya permintaan komoditas daur ulang plastik yang traceable. Sementara, juga mendukung masyarakat di luar Pulau Jawa yang membutuhkan bantuan.

Dia meyakini kesempatan untuk mengatasi sekaligus mengoptimalkan logistik pengumpulan dan pemilahan limbah plastik, di mana biasanya lebih rumit di daerah-daerah terpencil sekitar Indonesia.

"Dengan demikian, kami dapat memberikan peluang pendapatan dan model insentif bagi penduduk sekitar fasilitas, sehingga memobilisasi pengumpulan sampah informal serta mengurangi pencemaran plastik di laut," jelas dia.

Direktur Bantam Materials United Kingdom, Raffi Schieir mengungkapkan Prevented Ocean Plastic Southeast Asia memiliki kesempatan untuk memberikan dampak besar bagi masyarakat Indonesia yang membutuhkan bantuan, terutama bagi masyarakat yang tidak pernah memiliki akses ke 3 infrastruktur daur ulang. Permintaan global sudah meningkat untuk plastik daur ulang tracable dan berkualitas tinggi.

Pemerintah di Eropa dan pasar internasional juga telah menghimbau untuk memanfaatkan plastik daur ulang dalam kemasan produk. Melalui pengembangan infrastruktur yang sejalan dengan standar kualitas dan tata kelola internasional, serta mengikuti program Prevented Ocean Plastic yang dapat ditelusuri prosesnya dan dipercaya sepenuhnya, kami dapat membawa perubahan dalam industri pengelolaan sampah plastik di Indonesia, mencegah sampah plastik di lautan dalam skala besar, serta mendorong inklusi sosial dan keuangan yang lebih luas.



Simak Video "Kreasi Unik Siswa Sekolah Dasar dari Limbah Plastik, Gresik"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)