Pengusaha Ungkap Biang Kerok Minyak Goreng di Minimarket Ludes

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 21 Jan 2022 15:33 WIB
Kebijakan minyak goreng satu harga Rp 14.000/liter berlaku sejak Rabu (19/1). Stok tersebut kosong di beberapa ritel karena ludes diborong. Begini penampakannya.
Minyak Goreng Ludes/Foto: Anisa Indraini
Jakarta -

Masyarakat mengeluhkan kehabisan stok minyak goreng Rp 14.000/liter di minimarket. Pengusaha ritel mengungkap hal tersebut terjadi akibat banyak masyarakat memborong dengan modus sekeluarga ikut antre membeli, padahal diimbau satu orang cukup 2 liter.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengatakan jika hal itu terus terjadi, maka diyakini stok minyak goreng sebanyak apapun akan cepat habis.

"Kebetulan tadi tetangga saya 'Alhamdulilah dapat 24 biji minyak goreng,' padahal biasanya beli 1 liter. Ini jadi 48 liter beli yang 2 liter, dapat 24 botol bayangkan kalau seperti itu semua? stock setruk juga aja akan habis kalau seperti itu orang yang antre anaknya 5, pembantunya," katanya kepada detikcom Jumat (21/1/2022).

Solihin menjelaskan seharusnya, dalam keadaan normal stok minyak goreng di minimarket itu cukup untuk 2 minggu. Tetapi kalau masyarakat dalam keadaan panik memang tetap akan habis dengan cepat.

"Dalam keadaan normal stok di minimarket itu cukup untuk dua minggu. Tapi kalau masyarakat nggak karuan seperti ini, stok satu jam juga habis. Pemerintah kan sudah menjamin barangnya ada, kita juga kirim barang kan ada yang per hari dan per dua hari," kelasnya.

Ia pun mengimbau agar masyarakat tidak panic buying dan meminta tidak mengajak keluarganya ikut mengantre membeli minyak goreng. Hal ini didasari karena pemerintah sudah menjamin ketersediaan stok minyak goreng.

"Masyarakat jangan panik, beli jangan berlebihan, satu orang cukup 2 liter. Jangan menyuruh anaknya atau tetangganya untuk antre semua. Kita minta mohon masyarakat jangan panik Menteri sudah menyatakan tidak akan kehabisan stok," ucapnya.

"Yang membutuhkan banyak, kasihan yang membutuhkan mari kesadarannya masyarakat. Kalau beli untuk untuk dijual lagi itu salah," tutupnya.

(ara/ara)