Di Bali Hidup Mewah Cuma Habis Rp 31 Juta, Pria ini Rela Tinggalkan AS

Aldiansyah Nurrahman - detikFinance
Senin, 14 Feb 2022 11:28 WIB
Olumide Gbenro/Instagram
Foto: Olumide Gbenro/Instagram
Jakarta -

Pengusaha berusia 33 tahun, Olumide Gbenro dibesarkan di Nigeria sampai ia berusia enam tahun. Setelah itu, ia pindah ke London, Inggris, ketika orang tuanya yang seorang menteri memutuskan untuk pindah.

Kemudian, tujuh tahun kemudian, Gbenro diberikan visa untuk berimigrasi ke Amerika Serikat. Ia bersama orang tua, dan dua saudara kandungnya pindah ke Columbus, Ohio.

"Menjadi orang kulit berwarna, saya merasa bahwa ada saat-saat tertentu dalam hidup saya di mana saya tidak merasa dihargai sebagai manusia. Saya selalu merasa ditinggalkan," katanya, melansir CNBC, Senin (14/02/2022).

Gbenro menginginkan kehidupan yang berwarna, kehidupan yang dipenuhi dengan perjalanan, seni, dan kesempatan untuk bertemu orang-orang dari seluruh penjuru dunia. Tetapi orang tuanya ingin dia menjadi dokter, pengacara atau insinyur.

Akhirnya pada 2016, ia menyelesaikan gelar master ganda dalam bidang epidemiologi dan ilmu perilaku di San Diego State University. Dia menemukan dirinya terjebak di antara dua jalan, antara pergi ke sekolah kedokteran dan menjadi dokter atau berkeliling dunia.

"Sepanjang hidup saya, saya hanya mengikuti aturan, apakah itu dari orang tua, agama, atau masyarakat di sekitar saya. Tetapi jauh di lubuk hati saya tahu bahwa jika saya mengambil posisi dalam program PhD, saya tidak akan pernah bisa kembali, saya tidak akan pernah bisa bepergian ke luar negeri. Saya akan terjebak di laboratorium, jadi saya memutuskan untuk mengatakan 'tidak," tegas Gbenro.

Gbenro mengemasi semua barang-barangnya dan meninggalkan Amerika Serikat untuk berkeliling dunia.

Pemberhentian pertama Gbenro adalah Berlin, Jerman. Dia menghabiskan tiga bulan di sana dengan visa turis.

Ketika Gbenro meninggalkan Amerika Serikat, dia hampir tidak memiliki tabungan dan tidak memiliki rencana apapun. Dia dengan cepat mengembangkan Instagram-nya dengan memposting tips perjalanan, video dance, dan konten lainnya.

Gbenro memutuskan untuk memonetisasi hobinya. Dia akan mengirim pesan kepada pembuat dan bisnis lain di Instagram dan menawarkan untuk membantu mereka meningkatkan strategi media sosial mereka dengan bayaran rata-rata US$ 250 atau setara Rp 3,57 juta (kurs Rp 14.300).

Memulai bisnis jarak jauh sangat sulit pada awalnya, tetapi segera dia memiliki daftar klien yang lengkap dan penghasilan yang cukup untuk menjadikan media sosial sebagai pekerjaan penuh waktu.

Dia mengambil kursus daring dalam pemasaran media sosial yang membantunya menyusun bisnisnya, dan seorang teman lama di San Diego merujuknya ke dua klien pertamanya

Setelah visanya habis, dia pergi ke Meksiko selama empat bulan, lalu kembali ke San Diego. "Tetapi saya menyadari bahwa saya masih tidak senang tinggal di Amerika," katanya. "Ada sesuatu tentang tinggal di Amerika yang membuatku merasa seperti tidak berkembang."

Saksikan juga: Potensi Besar Digital Way of Life di Jawa Timur

[Gambas:Video 20detik]