Bos WHO Beberkan Butuh Rp 443 T/Tahun demi Lawan Pandemi

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 17 Feb 2022 20:20 WIB
Tedros Adhanom Ghebreyesus, Director General of the World Health Organization (WHO), talks to the media regarding the coronavirus and global health priorities in 2022, during a press conference, at WHO headquarters in Geneva, Switzerland, Monday, Dec. 20, 2021. (Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP)
Foto: Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP: Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperkirakan butuh US$ 31 miliar atau setara Rp 443 triliun (kurs Rp 14.300) per tahun untuk menghindari pandemi di masa depan. Dana tersebut digunakan untuk memperkuat sistem kesehatan dengan lima elemen.

"Tentu saja mendanai seluruh setiap elemen ini memerlukan investasi yang tidak sedikit, yang kami perkirakan sekitar US$ 31 miliar setiap tahunnya, sejalan dengan perkiraan G20 high level independent," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam High Level Internasional Seminar G20: Strengthening Global Health Architecture, Kamis (17/2/2022).

Kelima elemen itu yang pertama adalah pengawasan, kolaborasi, dan peringatan dini. Contohnya seperti pembentukan WHO Hub untuk pandemi dan endemi yang ada di Berlin, Jerman.

Kedua, pendanaan untuk riset prioritas dan akses ke kesehatan yang adil untuk negara-negara di dunia. Ketiga, membangun komunitas yang tangguh lewat peningkatan akses kesehatan dan jaminan sosial.

Keempat, intervensi kesehatan yang aman dan terukur, serta sistem kesehatan yang tangguh untuk menyelamatkan nyawa. Kelima, pendanaan kesiapsiagaan pandemi, koordinasi strategi dan respons, serta operasi darurat.

"Kami memperkirakan US$ 20 miliar akan berasal dari sumber daya domestik sehingga terdapat kekurangan US$ 10 miliar setiap tahunnya," tuturnya.

Meski begitu, Tedros menekankan bahwa pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum membicarakan cara menghindari pandemi selanjutnya.

Berdasarkan hitungannya terdapat US$ 16 miliar atau Rp 228,2 triliun gap pembiayaan antara negara kaya dan miskin di dunia. Dana tersebut dibutuhkan untuk menyediakan vaksin dan penyembuhan COVID-19.

"Kita tidak bisa membiarkan ini mengalihkan perhatian dari masa sekarang, kita tidak bisa mencegah pandemi di masa depan jika kita tidak bisa mengakhiri yang satu ini. Kita harus sangat serius untuk yang satu ini," tegasnya.

Tedros meminta semua pihak serius mengatasi kesenjangan khususnya terkait pendanaan saat pandemi. Dia ingin vaksinasi, pengobatan, hingga alat pelindung diri (APD) bisa tersedia di semua tempat.

"Ini adalah seruan saya kepada menteri-menteri keuangan tolong tutup kesenjangan ini dan mari kita akhiri pandemi ini, fase akutnya dapat kita akhiri tahun ini," tegas Tedros.

(aid/hns)