Hati-hati! Hacker Mulai Intai Kantor-kantor Hybrid

ADVERTISEMENT

Hati-hati! Hacker Mulai Intai Kantor-kantor Hybrid

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 01 Mar 2022 17:10 WIB
Spyware
Foto: dok ITPro
Jakarta -

Di masa pandemi COVID-19 banyak kantor yang menerapkan budaya kerja secara hybrid. Perkembangan digital juga memungkinkan para pekerja bisa bekerja di manapun.

Namun seiring dengan tren kantor hybrid yang semakin tinggi, ternyata dibarengi dengan risiko kejahatan siber yang mengintai.

Menurut data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), terdapat lebih dari 1,6 milyar anomali trafik yang terlacak sepanjang tahun 2021, 3 terbesar dilaporkan terjadi di situs pendidikan, situs swasta, dan situs milik pemerintah daerah. Dengan meningkatkan kewaspadaan dan rasa tanggung jawab terhadap data-data yang ada, hal tersebut dapat diminimalisir.

Head of Governance Risk Control & Technology Consulting RSM Indonesia Angela Simatupang mengungkapkan, cybersecurity culture menjadi penting karena dengan adanya hybrid office seperti sekarang ini, pelaku kejahatan siber memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertindak.

"Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keamanan siber, antara lain dengan perilaku seluruh insan organisasi yang sadar akan proteksi data, konsistensi dari komunikasi internal terkait keamanan data dan teknologi, program yang terencana dan terimplementasi yang baik untuk membangun budaya sadar keamanan siber," tuturnya dalam keterangan tertulis, Selasa (1/3/2022).

Perangkat dan aplikasi yang umum digunakan seperti Microsoft, Facebook, Twitter, Canva, dan banyak lainnya tidak luput dari serangan breaches dan hacking. Menurut pantauan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang tahun 2021, dari anomali trafik yan terdeteksi, terdapat 1,6 milyar pergerakan anomali di dunia siber yang terdeteksi dan 7,9 juta berasal dari pergerakan malware dan 5,4 juta dari phising.

"Data terbaru menunjukkan sebanyak lebih dari 4000 pengguna data di sektor pemerintahan telah terinfeksi oleh malware. Dengan kondisi ini kita harus lebih peduli dengan keamanan sistem yang kita gunakan dan disarankan mengganti password akun yang dimiliki secara berkala guna menghindari information phishing dan hacking," ujar Technology Risk Consulting Partner RSM Indonesia Ponda S. Hidajat.

Berdasarkan survei yang diadakan oleh RSM Indonesia dalam special report 'Emerging Threats in Cybersecurity', 36% responden berpendapat protokol keamanan siber harus diperbarui, dan 22% lainnya berpendapat kebijakan privasi juga harus diperbarui secara berkala. Lalu 46% gangguan di tahap operasional diperkirakan sebagai bentuk gangguan paling parah di dunia siber, dan 29% beranggapan bahwa kerugian finansial merupakan kerugian terbesar yang dapat dialami organisasi.

"Menurut survei, 59% responden percaya dengan keamanan data organisasi mereka dan 83% menyatakan bahwa keamanan siber telah menjadi prioritas di organisasi mereka. 70% responden melihat ancaman terbesar berasal dari pihak eksternal seperti hacker dan pelaku kejahatan siber," jelas Technology Risk Consulting Senior Manager RSM Indonesia Erikman D. Pardamean.



Simak Video "5 Hacker Berbahaya di Dunia, Siapa Saja?"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT