ADVERTISEMENT

Harga Ini-itu Makin Mahal, Kok Februari Malah Deflasi?

Iffa Naila Safira Widyawati - detikFinance
Rabu, 02 Mar 2022 08:00 WIB
Pembeli berbelanja kebutuhan pokok di salah satu pasar ritel modern di Tangerang Selatan, Kamis (11/2/2021). Dalam Survei Pemantauan Harga (SPH) pekan pertama, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi Februari 2021 sebesar 0,01% secara bulanan (month-to-month/MtM). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan secara tahun kalender sebesar 0,25% dan secara tahunan (year-on-year/YoY) 1,26%. Para analis menyatakan trend inflasi yang melambat di bulan Februari tersebut mendorong ancaman deflasi atau daya beli rendah.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Deflasi pertama tahun ini telah terjadi pada bulan Februari. Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2022 terjadi deflasi mencapai 0,02%.

"Februari jadi perkembangan indeks harga konsumen deflasi 0,02%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto dalam konferensi pers, Selasa (1/3/2022).

Banyaknya kenaikan harga kebutuhan barang pokok yang terjadi menjelang awal tahun, telah menimbulkan pertanyaan mengapa malah terjadi deflasi bukan inflasi?

Direktur Eksekutif CORE, Mohammad Faisal mengatakan salah satu penyebab deflasi ini bisa terjadi karena adanya pengaruh gelombang 3 varian COVID-19, Omicron.

"Memang ada faktor juga dari lemahnya daya beli akibat masih terbatasnya mobilitas kita kemarin masih merasakan dampak gelombang tiga Omicron jadi akhirnya fungsi daya beli masyarakat masih lemah," kata Faisal saat dihubungi detikcom, Selasa (1/3/2022).

Menurutnya juga deflasi bisa terjadi justru karena harga barang tersebut yang naik sehingga membuat permintaan pembelinya menjadi lemah dan mengakibatkan deflasi bisa terjadi.

Selain itu, Faisal menambahkan, kenaikan harga pada beberapa komoditas itu terjadi pada akhir bulan, yang mana tidak begitu berkontribusi memicu inflasi.

Senada dengan Faisal, Direktur CELIOS (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa deflasi ini bisa terjadi dari pengaruh virus Omicron yang membuat permintaan masyarakat agak lambat.

"Sisi permintaan masyarakat yang masih lambat ya karena efek dari Omicron jadi masih belum bisa memicu permintaan naik yang signifikan seperti sebelum Pandemi," kata Bhima.

Ia juga menilai kenaikan harga banyak terjadi pada akhir bulan Januari, dan akhir bulan Februari. Malah sebaliknya, selain kenaikan harga minyak goreng, dan kedelai, harga beras masih stabil.

"Wajar ya karena gini memang ada kenaikan di minyak goreng di kedelai tapi di Sisi yang lain harga beras stabil dan beras itu penyumbang keranjang inflasi yang cukup besar," imbuhnya.



Simak Video "Inflasi di Jateng Turun 0,69 Persen, Kok Bisa?"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT