ADVERTISEMENT

Gubernur BI Prediksi Pemulihan Ekonomi Global Tak Merata, Kok Bisa?

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 21 Mar 2022 16:14 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membeberkan proses pemulihan ekonomi global tidak selalu berjalan mulus. Hal itu diprediksi akan terus berlanjut di 2022 di mana pemulihan antara satu negara dengan yang lain tidak berimbang.

"Ketidakseimbangan ekonomi global berlanjut di 2022. Diperkirakan 2022 ini pertumbuhan ekonomi dunia bisa tumbuh 4,4%, tapi ketidakseimbangan masih berlanjut karena kemampuan untuk pulih dari COVID memang tidak seimbang," katanya dalam 'Kuliah Umum: Mendorong Akselerasi Pemulihan Ekonomi & Menjaga Stabilitas di Tengah Normalisasi Kebijakan Negara Maju & Ketegangan Geopolitik' secara virtual, Senin (21/3/2022).

Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) itu berkaca pada pertumbuhan ekonomi global di 2021 yang sebesar 5,7%.

"Ekonomi global yang tumbuh tinggi itu bertumpu pada dua negara besar yaitu Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang tentu saja jadi tidak seimbang," tuturnya.

Ketidakseimbangan pemulihan ekonomi global itu dikarenakan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 yang tidak merata. Begitu juga dengan pemberian stimulus fiskal dan moneter.

"Di negara-negara maju bisa melakukan vaksinasi secara cepat, melakukan stimulus secara besar-besaran, tapi di negara berkembang kemampuan itu terbatas. Belum lagi banyak negara berkembang terutama di Afrika terbebani utang, itulah ketidakseimbangan dalam ekonomi global," imbuhnya.

Perry kemudian membeberkan tiga tantangan yang dihadapi dalam pemulihan ekonomi global yakni dampak normalisasi kebijakan negara-negara maju, dampak COVID-19 terhadap kondisi sektor riil atau scarring effect, dan ketegangan geopolitik yang terjadi Rusia dengan Ukraina.

"Itu menjadikan permasalahan pemulihan ekonomi global lebih sulit dan harus kita lakukan bersama," tandasnya.

(aid/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT